Akikah "Muhammad Asyam Alfath" 17 November 2014

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Walaupun luka post SC masih amat terasa, tapi tetap memutuskan untuk meng-Akikah anak pertama kami 7 hari setelah lahir. Mengingat libur suami yang hanya beberapa hari juga. Tak terlalu banyak yang bisa di ceritakan. Hanya ingin mengucapkan banyak terima kasih buat keluarga, teman-teman yang sudah menyempatkan hadir, memberikan doa-doa terbaiknya, serta yang masih menyempatkan memberikan hadiah-hadiah kecil buat putra pertama kami. Terima Kasih. Dan Alhamdulillah. ­čÖé

Iklan

Ahlan Wa Sahlan,Nak :)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, 10 November kemarin telah lahir putra pertama kami. Namanya”MUHAMMAD ASYAM AL FATH AKHMAR”. Nama ini dari ayahnya. Kata suami (ayah), karena┬á tanggal 10 November bertepatan dengan hari pahlawan, makanya diberi nama “Asyam” yang artinya”pemimpin yang mulia”. Semoga nama ini akan selalu menjadi do’a baginya. Kelak, akan menjadi seorang pemimpin. Tapi bukan pemimpin yang biasa. Tapi pemimpin yang mulia seperti Nabi Muhammad SAW. Amin. “Al Fath” sendiri diambil dari surah Al Fath yang artinya kemenangan.

┬áBaiklah, akan saya ceritakan sedikit proses kelahiran anak pertama kami ini. tgl 9 Nov, sebenarnya saya sudah merasakan yang namanya “sakit”. Tapi karena baru pertama hamilnya, jadi mengira “sakit” itu sebagai sakit biasa saja karena kecapaian atau hanya “HIS PALSU” saja yang sering teman/keluarga dan pasien ceritakan. Tapi waktu tanggal 10 Nov pagi, sakitnya tidak hilang-hilang. Nggak mau bilang sama suami dulu sih, takutnya suami panik dan langsung buru-buru terbang ke Makassar. Takutnya juga, pas datang ternyata masih 2-3 hari baru melahirkan.hehe. Awalnya hubungi mama yang masih di bone. Waktu itu cuman bilang “sakit-sakit” saja, belum ada keluar lendir dan darah yang jadi pertanda bagi kebanyakan orang. Kata mama sih, kalau belum ada keluar lendir dan darah, biasanya belum. Yah, jadi nyantai2 lah. Sayangnya, sakitnya makin menjadi-jadi. Akhirnya memutuskan untuk menghubungi suami. Karena, sakitnya memang udah sakit, dan suami paling nggak bisa dengar kata “sakit” apalagi bilang, “udah nggak bisa makan”, suami buru-buru ke bandara. Saat itu sudah pukul 12.00. Dan penerbangan terakhir di Ternate, tempat tugas sementara Suami pukul 14.00. Saat tiba dibandara, dan ke travel, ternyata tiket penerbangan terakhir sudah habis. Suami telpon, dan bilang besok pagi, penerbangan pertama baru bisa pulang. Saya mengiyakan saja, dan berdoa, semoga besok lahirannya. Tapi, nggak sampai 10 menit, suami nelpon lagi katanya sudah beli tiketnya orang yang batal berangkat. Alhamdulillah. Nunggu suami dengan tubuh yang super lemas karena tak makan dan sakit yang makin sering. Kakak perempuan sudah berapa kali ngajak ke rumah sakit, cuman sayanya saja yang waktu itu belum mau sampai suami tiba. Akhirnya kakak telpon mama, dan meminta mama segera datang karena melihat saya yang sudah super kesakitan. Perjalanan bone-Makassar bisa makan waktu 6 jam. Sementara suami, 3 jam kemudian sudah tiba di Makassar. Saat tiba, tanpa mandi, makan, langsung bawa saya ke rumah sakit. Di perjalanan ke Rumah Sakit, Hisnya mulai menjadi-jadi. Kupikir akan lahiran di mobil saking sakitnya. Jadinya, saya dibawa ke rumah sakit terdekat, RSB Bunda pukul 18.00. Saat tiba, ternyata sudah pembukaan 3 oleh bidannya yang memVT. 1 jam kemudian di VT sama dokter jaganya, sudah pembukaan 5. Pas spesialisnya datang memeriksa, akhirnya dianjurkan untuk CITO SC karena indikasi. Yang namanya udah sakit, dan kalau memang itu yang terbaik buat ibu dan anak, akhirnya mengiyakan untuk SC. Padahal pembukaan 5 sudah setengah jalan pikirku. Tapi yah, namanya indikasi, dan itu yang terbaik, kenapa tidak. Alhamdulillah, tidak sampai 3 jam saat tiba di rumah sakit, akhirnya mendengar tangisan pertama anak kami. Anak kami lahir dengan berat 2650 gram. Suami yang sudah resmi jadi ayah, meng-Azan kan pertama kali pada anak kami. Dan saya langsung di masukkan di ruang Recovery Room. Mama tiba beberapa saat setelah anak saya lahir. Yah, sedih juga sih tidak didampingi mama, tapi bersyukur, masih ada suami yang menemani. Nggak kebayang kalau saat itu, suami nggak dapat tiket. Alhamdulillah.