[Kisah Dokter Internsip] Ramadhan ala dokter Internsip

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِي

Sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak memposting apa-apa lagi di MP.. sudah cukup dikecewakan dengan berita penutupan MP.. sedikit membiasakan diri juga untuk tak lagi sering-sering curhat di MP. 🙂 kuharap ini bukan postingan terakhir disini..
Oh iya, kali ini saya akan bercerita tentang Ramadhan pertama saya sebagai seorang dokter dan di kampung orang..

Yah.. kami (ber15), sudah menjalani 3 bulan sebagai seorang dokter Internsip.. dokter “fresh graduated” yang bersedia ditempatkan dimana saja magang selama 1 tahun. Di gaji? tentu saja.. tapi dirapel 3-4 bulan dulu. Gajinya pun sebulan 1/5  dari gaji dokter PPT sebulan.. walau pun tugas kami ternyata jauh lebih berat dari dokter PTT. kebetulan di tempat saya PKM ada dokter PTTnya. ternyata dokter PTT cuman ditempatkan di puskesmas dan tak diberi tugas apa2. bandingkan dengan kami yang juga ditempatkan di UGD dan perawatan inap/jalan ditambah berjibun2 tugas dan presentasi kasus..belum lagi, kalau mau libur, dokter PTT bisa semaunya dan kami harus menganti tiap libur yang kami ambil *MULAICURHATLAGI
-abaikan-

Dan kami mendapat kabupaten Sinjai untuk menghabiskan 1 tahun kami bersama. Oh iya, mulai Ramadhan ini, ada sedikit perubahan formasi.. Anty dan Harry yang baru saja menikah, memutuskan untuk keluar dari rumah posko kami dan tinggal dirumah keluarganya. Ria, memutuskan menghabiskan ramadhannya di India.. mengikuti acara sebuah organisasi kemanusiaan disana. Cukup kehilangan juga, mengingat Ria termasuk salah satu “CHEF” di Posko ini. Kalau puasa sunnah senin kamis, biasanya Ria yang bangun masakin sahur dan membangunkan kami. Seperti yang pernah saya tulis di jurnal sebelumnya, di Posko ini, yang bisa dan rajin masak cuman 3 orang, dr.Mariyah, dr. Ria, dan saya sendiri \^______^/ khusus untuk dyah, berhubung stase UGD jadi bisa dipastikan ada beberapa masa tak ikut masak untuk buka puasa karena jaga siang, atau pun sahur karena jaga malam.. dan bisa diprediksi, siapa yang akan menghandle itu semua. Diawal, ketika ria sudah di India, sempat SMSan, dan dari pesannya dia menulis “jadi ibu Rumah Tangga yang baik yah, Maya”.. haha.. saya hanya tertawa membaca pesan singkat itu.

Hari pertama sahur..
entah sebuah kebetulan atau bagaimana, wanita yang muslim di posko (saya, dyah, nia, ciwi) sangat kebetulan “berhalangan” semua.. dan bisa dipastikan apa yang terjadi. Kami tak ada yang berniat bangun untuk sahur dan tentu saja tidak bangun :D, jadilah pria-pria muslim di posko (k rizal, adeh, ardi, iam) kelabakan ketika sahur.. bagun jam 4.30, kebingungan mau masak apa. Dikulkas kami sudah sediakan ikan yang malam sebelum tidur sudah ciwi bersihkan isi perut dan sisiknya. Jadilah k rizal mengoreng ikan tersebut dan adeh membuat sayur Indomie dengan memasak indomie dan sayur kol dan wortel yang entahlah, sayurnya masak atau tidak. Dari dalam kamar, saya sudah mendengar kehebohan didapur.. terdengar panci, teriakan ini itu karena sudah Adzan berkumandang, adeh belum selesai makan., sebenarnya tadi mau bangun membantu tapi tak ada yang mau menemani saya keluar kamar.. risih juga pasti berada diantara pria-pria itu, jadilah saya melanjutkan tidur.. Paginya baru saya menyadari ikan yang mereka masak berbau amis dan tak ada rasa.. mereka mengorengnya tanpa memberi jeruk nipis dulu maupun garam merica.. haha…

Untuk buka puasa, karena berbarengan dengan makan malam, jadi tak usah dikhawatirkan,.. kami masak yang enak tentunya 😀

hari ke 2 sahur
yah..kami wanitanya masih “berhalangan”.. dan untuk hari ke 2, mereka masih masak sendiri.. sedikit tertolong karena di kulkas kami menyediakan chicken nuggets.. hehe,… walaupun paginya saya lihat hasil gorengan pria-pria itu GOSONG semua T_____T

hari ke 3 sahur
disini, saya sudah mandi bersih malamnya,jadi hari ke 3 sahur, cuman saya wanitanya yang bangun masak. sedikit kasihan juga melihat sudah 2 hari mereka makan sahur seadanya.. haha.. yah.. saya masak sup dan cumi masak hitam. sedikit kikuk di meja makan sendiri wanita untungnya pria-pria di posko orangnya ramai-ramai.. selalu saja ada yang bikin orang tertawa.. 🙂 untungnya dihari ke 4 sahur nia sudah menemani 🙂

hari ke 5 sahur
Disini, terjadi kehebohan yang tak terbayangkan, malam sebelum sahur, seperti biasa saya akan melakukan rutinitas memotong-motong sayur, numis bumbu atau apapun yang bisa menghemat waktu ketika sahur nanti. Saat sedang mengoreng kentang ternyata gas nya mati, dan sudah jam 11. tetangga sebelah jual gas sih sebenarnya.. minta tolong ka rizal buat beli gas, katanya “sahur aja may, udah malam, ga enak bangunin tetangga sebelah”, kubilang OK.. “yang penting begitu bangun langsung beli yah.. kalau tidak nanti sahur nya kita makan mie goreng di hancurkan pakai bumbu ala2 anak sekolahan dulu 😀
saat bangun, ternyata sudah pukul 04.45. cuman ada 15 menit sebelum adzan subuh.. benar-benar kelabakan.. saat itu saya yang bangun pertama, dan dengan segala kehebohan membangunkan teman-teman, ada yang tidur di sofa, didepan TV. hufttt…awalnya berniat masak ikan goreng dan soto ayam.. sayangnya waktu sudah tak memungkinkan jadi beralih mengambil nuggets dan indomie kuah.. baru ingat gas habis, k rizal buru2 ke sebelah beli gas, dan ternyata…….STOK GAS HABIS……. GREATTTT!!! untungnya nasi ada, lauk yang terpikir saat itu hanya abon.. yah, saya masih punya 1 bungkus abon merek Carefour di lemari. untuk sayurnya, berhubung kami tidak biasa makan nasi, kering tanpa sayur, adeh lalu menyalakan dispenser yang bisa memanaskan air. oh iya, dispenser jarang kami colok karena daya listrik di rumah tidak cukup. menyalakan kulkas + pemanas nasi sudah bisa membuat listrik turun berkali-kali. ternyata untuk memanskan dispenser butuh waktu 15 menit.. sudah tak ada waktu lagi.. akhirnya kami makan nasi+abon+air putih disiram di nasi… benar-benar tak terlupakan kejadian itu. setidaknya dari kejadian ini, mereka belajar bahwa saya juga manusia yang terkadang telat bangun juga.. haha. cuman saya yang pertama bangun dari sahur ke 3 dan mereka semua tidur pulas karena merasa “ada mama comel yang bangunkan” T______T,

Untuk buka puasa, tak usah diragukan.. sebagai yang paling sering didapur gara-gara stase PKM tanpa jaga malam, saya jadi sering memasak dan dibantu beberapa teman yang tidak jaga dan yang non muslim.. pulang dari PKM jam 12 sampai dirumah jam 12.30, shalat dzuhur, setelah itu tidur siang sejenak, biasanya sampai jam 2 karena harus mengantar teman jaga siang di UGD maupun diperawatan, dan biasanya setelah ngantar mereka, lanjut ke Pasar membeli bahan untuk berbuka.  awal-awal Ramadhan masih semangat-semangatnya, sering bereksperimen juga kadang-kadang 😀

Yah.. walaupun kami sering dapat cap “DOKTER KERE” karena gaji yang belum kunjung keluar dan banyak dari kami yang enggan untuk minta kiriman.. tapi kami masih bisa makan enak kok disana.. hehe.. bersyukur dapat daerah yang sayur-sayurannya murah, dan seafood2 seperti ikan, cumi, kepiting, udang terbilang murah ketimbang ayam dan daging yang susah didapat. Bersyukur juga bone-sinjai cuman 2 jam, jadinya mama sering mengirimkan ayam potong yang sudah direbus tiap minggu, termasuk kue bolu gulung dan buah-buahan untuk bikin es buah..
ini beberapa contoh menu berbuka puasa kami…sering dijadikan DP biar orang tua kami tidak khawatir dan tidak bertanya lagi anaknya buka pakai apa T______T, tenanglah para ibu-ibu, hidup kami baik-baik saja disini… kami pasti pulang dengan BB yang naik

err…tiap hari memasak juga ternyata membosakan.. sudah hampir pertengahan ramadhan dan kami buka sahurnya di rumah terus.. tak pernah buka diluar.. yang bikin semangat adalah, adanya kabar kalau ada buka puasa gratisss.. aka UNDANGAN buka puasa.
Awalnya dapat undangan dari kakak perawat UGD, kami yang dipuskesmas risih untuk datang.. beneran ga kenal sama yang ngundang, walaupun yang ditanya waktu itu adeh, sudah bilang kalau nanti kami datang ber 14, dan sudah di Iya kan, tetap saja tidak enak 😀 pas dapat kabar kalau ternyata kakak perawatnya nanyaain kami dan malah ngasih rantang buat yang ga datang kala itu, diundangan-undangan berikutnya, kalau yang ngundang perawat rumah sakit, kami teetappp datang dong, lumayan menghemat…hehehe

beberapa undangan seperti dari SEKDA Sinjai dan Rumah jabatan alias pak bupati yang ngundang, sampai kepala perawat ini itu tak pernah kami lewatkan, jadilah kami “dokter pemburu buka puasa gratis”… hahaha,… yah.. setidaknya kalau dapat kabar ada buka puasa gratis.. tidur siang saya bisa sedikt lebih panjang karena tidak harus kepasar lagi dan masak untuk berbuka, ditambah kalau dapat “RANTANGAN” buat sahur lebih menghemat waktu lagi.. kalau biasanya saya bangun jam 3 atau paling lambat 3.30 untuk masak sahur, kl ada “RANTANGAN” paling bangun jam 4 atau 4.30.. hehehe

oh iya, selama Ramadhan, kami cuman makan 2 kali rumah makan di luar. sekali di LAPPA pas ultahnya Jeklin dan yang kedua di PASUNDAN karena memang lg pengen.. hehe.. PASUNDAN rumah makan favorit kami kalau lg ga puasa buat makan siang.. menunya macam2 dan harganya terjangkau pastinya.. hehe 😀

(suasana saat buka puasa di LAPPA, tempat pelelangan ikan termurah se Sul Sel, dalam rangka syukuran ultah Jek)

yah… seperti itulah kehidupan Ramadhan pertama saya bersama 14 manusia senasib sepenanggungan ini.. Sungguh akan merindukan masa-masa ini lagi.. Masak bareng, nge Pasar bareng, Shalat 5 waktu Jama’ah, Tarawih bareng, Tilawah bareng,berburu buka puasa gratisan… yah.. kata orang mirip suasana kos-kosan, tapi kupikir lebih mirip Panti Asuhan… haha.. sekamar ber 5.. 1 meja makan, 1 dapur, 1 TV, 1 kamar mandi.. hehe