Ketika mereka bercerita… :)

Bismillahirahmanirrahim…

Iseng saja. Hanya ingin mengumpulkan cerita-cerita mereka dan menjadikannya SATU 🙂 


Jumat, 11 Maret 2011 

namanya “Bilik Kecil”  
Entah kenapa sampai detik ini, saya tidak dapat memisahkan diriku dari sebuah ruangan yang dari kebanyakan orang meyebutnya “Bilik Kecil”. Ruangan dengan ukuran 4×7 meter itu begitu mininya jika dibandingkan dengan ruangan-ruangan lainnya (kecuali BPM). Belum lagi jika banyak asap rokok dimana-mana, tetap saja hati ini tak dapat berpaling ke ruangan-ruangan lainnya. Yah, secretariat sinovia itu memang unik, sempit, gelap, kusam, tapi tetap saja menjadi magnet untuk diriku berada didalamnya. Hanya sejenak saja untuk dapat membaringkan tubuh bongsor ini keatas karpet yang tahun lalu di beli oleh witono gunawan,. Belum lagi AC yang tiupannya kurang lebih seperti kipas angin, rasanya sepoi-sepoi sejuk menurutkum menambah hati ini tak mau berlama-lama untuk segera pergi meninggalkannya. 

Bilik kecilku tersayang, mempunyai daya magic nya tersendiri. Membuat saya dan rekan-rekan se-profesiku, ikhlas untuk meluangkan waktunya berlama-lama didalamnya. Bilik kecilku tersayang juga mempunyai sejarah yang teramat panjangnya, dia adalah saksi bisu atas perjuangan kami dan para pendahulu kami agar tidak tergusur oleh zaman. Dia telah meihat banyak canda tawa, dan tidak sedikit pula melihat tetesan air mata didalamnya. Diapun adalah saksi bisu atas banyaknya cinta yang dimulai dan diakhiri oleh penghuninya.

Berikan aku satu alasan mengapa aku harus meninggalkannya? Maka kau tak akan mendapatkan satu pun alasan, sebab dialah jika boleh aku berkata rumah ku ketika aku di kampus. Tempatku berteduh ketika kuliah yang membosankan, tempatku bernanung, ketika yang lain praktikum.

Tapi, apakah yang lainnya masih berpikiran sama sepertiku? Atau itu adalah masa yang lalu, masa yang hanya pantas di ceritakan oleh mahasiswa karatan seperti saya. Ataukah daya magic mu itu telah luntur oleh zaman, sehingga kau tak mampu lagi memberikan pesonamu terhadap mereka yang berjiwa muda? Tapi tenanglah kawand, dirimu adalah bagian dari diriku.
Tak akan ku biarkan kenangan itu pudar dalam hati ini. Karena kau adalah…  

Rumahku 


29 Maret 2004
Bilik Kecil Sinovia
Ahad pagi kemarin, bareng dengan k’ ichal, upload situs sinovia. Sengaja memilih pagi hari, karena di waktu ini, koneksi di warnet bisa cepat. Seluruh tampilan, script php dan segala yang berhubungan dengannya, dibuat oleh bapak ini. Saya sendiri, asli sama sekali buta dengan namanya php dkk. Rencana publish sinovia sudah lama, sejak akhir tahun kemarin. Tapi berhubung tidak dapat hostingan gratis yang support php -sebenarnya sudah mendaftar di t35, tapi balasan aktivasi tidak sampai-sampai juga, baru kemarin register ulang dan dapat balasan email aktivasi- baru ahad kemarin bisa upload.

Sinovia merupakan majalah kedokteran unhas. Pertama kali mengenalnya, saat di ospek sebagai mahasiswa baru. Selanjutnya, tahun kedua kuliah, sering berkunjung ke ruang sinovia (sebelum berpindah ke gedung student center). Sebuah kebetulan, bilik kecil sinovia, -demikian biasanya ruang sekretariat ini disebut- terletak berhadapan dengan ruang praktikum faal. Bilik kecil sinovia, dinamai demikian mungkin karena luas ruangannya yang kecil. Berukuran tiga kali empat meter, pintu ruangan ini selalu terbuka lebar. Di dinding atas pintu terdapat tulisan Bilik Kecil Sinovia, sebagai pengucap selamat datang. Lantai berselimutkan karpet berwarna abu-abu, dengan satu sisi dinding dalam berlukis grafiti cleopatra -mungkin-, sketsa perempuan berkerudung bercadar dari pensil warna, dan tampilan sampul depan tabloid sinovia edisi sebelumnya, dibingkai menghiasi sisi dinding lainnya. Sebuah lemari kayu besar terdapat di sudut ruang. Tempat ini juga menjadi favorit teman lain, karena terdapat mesin ketik yang bisa digunakan mengerjakan tugas pendahuluan, sebagai syarat masuk praktikum.
Tahun ketiga kuliah, diawali dengan penerimaan anggota magang, saya mulai berinteraksi dengan penghuni lain bilik ini (agak terlambat memang).

 Ada sedikit cerita saat menjadi anggota magang. Pimred, langsung memberi tugas wawancara untuk laporan utama. Tidak ada pembekalan sama sekali, hanya diberitahu gambaran tentang laput dan siapa narasumber. Sisanya… terjun bebas. Bersama dengan dua rekan magang lainnya, thurie dan ridwan, sepakat bolos kuliah untuk mewawancarai narasumber di RS Angkatan Darat Pelamonia (isi laput tentang dokter militer, saat itu lagi gembor-gembornya antipati segala yang berbau militer). Tidak ada janji sebelumnya dengan narasumber, dan saat bertemu, para narasumber tadi justru menyuruh mengikuti pertemuan mereka. Kami cuma menurut, pikirnya, setelah pertemuan bisa langsung mewawancara. Kesempatan pula, narasumber yang didapat bisa lebih dari satu. Ternyata, pertemuan yang kami ikuti tidak lebih dari presentasi produk obat baru dari satu industri farmasi, walhasil cuma bengong saja. Setelah presentasi, ada jamuan makan siang. Hitung-hitung rejeki tugas pertama. Setelah pertemuan dan jamuan makan siang usai, saat mengkonfirmasi ulang maksud kedatangan dengan para narasumber, mereka malah bengong. Nah lho. Terpaksa, wawancara ditunda keesokan harinya.

Esoknya, setelah janjian dengan kedua rekan untuk membolos lagi, bertemu dengan narasumber. Narasumbernya malah keberatan diwawancarai. Namun setelah dijelaskan isi liputan, dan memberi draft pertanyaan, barulah ia mau (ternyata, beliau mengira isi liputan tentang peran militer dalam politik). Dan kami mulai sibuk mencatat semua jawaban yang diberikannya (maklum, tidak ada yang namanya tape recorder).  Saat tabloid sinovia terbit, membaca liputan utama, mencari-cari hasil wawancara kami, ternyata hanya sebagian kecil yang diambil. Hanya dua baris kalimat saja. Tapi rasanya kok senang banget.

Sayang, saya tidak terlalu lama berinteraksi dengan penghuni bilik kecil ini. Kesibukan saat memasuki stadium klinik, membuat saya lupa dengan mereka. Hanya pada saat-saat tertentu saja saya menyambangi mereka. Sungguh sayang. Dan akhir tahun lalu, saat bertemu dengan teman-teman di sinovia, ada keinginan untuk memperbaiki tampilan sinovia online yang sudah ada. Hasilnya sudah bisa dilihat sekarang, walau masih banyak kekurangannya.   
PS : terimakasih banyak buat k’ ipink, k’ ippank, k’ irham. buat sinocrew, keep da gud work friends. juga makasih banyak untuk k’ ichal tentunya.


10 September 2009
Bilik Kecil
Bilik kecil ini menimbulkan keposesifan. Padahal tidak ada materi yang bisa dibanggakan dari ruang geometri tak jelas ini. Sebuah komputer tua yang sering hang, dua buah lemari buku hasil jarahan dan sebuah TV hasil klaim, hanya itu barang-barang yang bisa dijual dari bilik kecil ini. Tidak ada lagi yang lain. Tidak mungkin menjual AC rusak yang sudah menggantung dan mengotori bilik kecil pengap ini selama dua tahun terakhir. Walaupun ada rencana menjual, selalu saja urung dieksekusi karena baru membicarakannya saja, para penghuni bilik sudah merasa sakit mengingat semua kejahatan, kebasahan, kelembaban dan keapekan yang telah diperbuat AC tua itu. Kata salah satu penghuni,”biarkan saja dia di situ. Prestise. Untuk ukuran keindonesiaan, AC adalah barang mewah. Mungkin saja dia bisa membawa aura kemewahan di mata para tamu Indonesia”. Sebuah alasan mati untuk menyembunyikan rasa muak.

Tapi memang mengherankan. Bilik kecil ini bisa menimbulkan daya magis yang lebih kuat menarik dan mengikat terhadap penghuninya dibanding kawat gigi terhadap gigi. Padahal tidak ada upah yang didapat para penghuninya dari menjagai bilik tak berbentuk ini selain rasa pengap karena keringat dan panas tubuh. “Ini perkara di luar logika”, begitu jawab salah satu penghuni ketika ditanyai soal alasannya bertahan di bilik kecil.

Banyak hal di dunia ini yang berjalan di luar logika, terutama jika itu berkaitan dengan keposesifan. Tapi apa para penghuni bilik kecil itu tahu hal ini? Mereka tahu dan sangat menyadarinya, bahwa saat ini mereka sudah berjalan menjauhi realitas. Tapi mereka sudah tidak bisa lagi mundur. Ada sesuatu yang harus mereka tuntaskan namun tidak mungkin diputuskan tentang mereka terhadap bilik kecil ini. Kata orang-orang di zaman, batu masih jadi barang berharga, para penghuni bilik kecil itu tengah dimabuk cinta. Cinta pada bilik tak jelas.

Pasti ada sesuatu pada bilik itu yang membuat penghuninya jatuh cinta. Penulis bilang, itu kenangan. Nostalgia dengan masa lalu.

Nostalgia yang merekatkan generasi-generasi berbeda menjadi sebuah keutuhan di bilik kecil ini.



1 Juni 2011
Bilik Kecil

Saya tak bisa banyak kata tentang ini..

hanya sebuah tempat kecil

untuk keluarga kecilku

dengan mimpi-mimpi yang selalu besar

semoga tetap terjaga, kecil tak mengapa, yang penting seberapa banyak cerita yang bisa kau tuliskan di situ..

Iklan

12 thoughts on “Ketika mereka bercerita… :)

  1. Hmi, Sinovia , Asian Medical Student Assosiation(AMSA) , Medical Moslem Family, Medical English Club Society (MECS), sama Roentgen Photography..

    tapi yg “sesuatu” banget yah pas di sinovia..hehe.. *merasa paling di butuhkan disana 😀

  2. dulu awalnya berukuran 3×4.. didepan lab faal.. karena saking kecilnya makanya dibilang bilik kecil.. stelah itu pindah ruangan di gedung student center berukuran 7×4 tapi bagi 2 dengan organisasi MYRC (Medical Youth Research Club),organisasi pencinta meneliti.. jadi masih dibilang bilik kecil.. kmudian MYRC pindah ruang dilantai 3.. udah agak besaran.. 7×4 jadi milik utuh.. tapi krn nama bilik kecil dah melekat..jadi walaupun besar tetap dibilang bilik kecil 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s