[Kutipan] Kusta:Masih Ada Diskriminasi dan Stigmatisasi

Penulis: Elok Dyah Messwati dan Reny Sri Ayu
Dimuat di Kompas 27 Januari 06

Hujan mengiringi langkah ketika memasuki penampungan kusta
Jongaya di Makassar, Sulawesi Selatan, akhir pekan lalu. Awan hitam
menutup Matahari yang semula terik, “sehitam” nasib para penderita
kusta yang masih merasakan diskriminasi dan stigmatisasi.

    Permukiman kusta yang dibangun Pemerintah Belanda tahun 1936 tersebut tampak asri. Hijau perdu yang ditanam dalam kaleng bekas menghias depan rumah-rumah mungil mereka yang berderet rapi. Jalan Dangko sebagai jalan “utama” terbilang bersih.
    Penampungan kusta Jongaya berada di Kelurahan Balangbaru, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Saat ini dihuni sekitar 500 keluarga. Total penduduknya lebih kurang 2.000 jiwa. Dari jumlah itu, 400 di antaranya adalah penderita kusta atau eks penderita kusta. Sisanya merupakan anak cucu mereka.
    Sayangnya, kawasan ini terisolasi atau diisolasi (?) oleh masyarakat. Sangat jarang orang “luar” bertandang. Kalaupun ada orang “luar” yang melintasi penampungan, menurut Mustari (70) yang juga ketua RW di situ, mereka melintas dengan menutup hidung atau meludah.
    Hal lain yang juga menyakitkan adalah soal naik angkutan kota. Warga Jongaya memaksakan diri membeli motor karena memang keadaan yang memaksa begitu. Sering mereka harus menunggu mobil pete-pete (angkutan kota di Makassar) selama dua-tiga jam di pinggir jalan karena tidak ada pete-pete yang mau mengangkut.
    “Mungkin sopir angkutannya mau mengangkut kami, tapi penumpang lain menolak. Padahal kadang kami butuh kendaraan untuk mengangkut orang sakit,” tutur pensiunan pegawai negeri sipil Abdul Latif (57), penderita kusta yang tinggal di Jongaya.

Didiskriminasi
    Kalau Latif bertutur dengan emosional, itu adalah sesuatu yang sangat bisa dimengerti dari mantan ketua RW penampungan kusta Jongaya
ini. Pasalnya leprofobia yang masih kuat di masyarakat membuat mereka
kerap didiskriminasi.
    Dalam banyak aspek kehidupan, penderita dan eks penderitakusta/lepra memang masih diperlakukan berbeda. Tak hanya berbeda, keberadaan mereka pun masih dipandang sebagai momok menakutkan. Dalam bahasa Makassar, kusta dikenal sebagai kandala, dan kaddalakeng atau malasa uli dalam bahasa Bugis.
    Rasa takut berhadapan dengan penderita kusta tidak hanya diidap
oleh masyarakat kebanyakan. Petugas kesehatan di rumah sakit umum pun
sering tidak memperlakukan mereka dengan baik.
    Latif mengisahkan pengalaman warga Jongaya saat berobat ke RS Haji Makassar. Rumah sakit di dekat penampungan Jongaya ini pada awalnya disediakan sebagai klinik pengobatan untuk penderita kusta di Jongaya. Tragisnya, penderita kusta Jongaya kini justru “tersingkir”. Mereka kesulitan jika hendak berobat karena pasien umum di rumah sakit itu tidak mau dirawat inap bersama-sama penderita kusta. “Bahkan perawat jijik melihat kami,” katanya.
    Alhasil, penderita kusta pun kebingungan jika harus berobat, padahal RS Kusta Daya (RS khusus untuk penderita kusta) jaraknya sekitar 20 kilometer dari Jongaya. “Seharusnya kami dibuatkan satu bangsal khusus di RS Haji. Paling tidak untuk pertolongan pertama,” kata Abdul Latif.

Uang dilempar
    Diskriminasi juga dialami Mustari, yang berprofesi sebagai juru parkir. Ia berkisah tentang perlakuan orang-orang kepadanya. “Uang parkir mereka lempar begitu saja. Bahkan kalau kebetulan uang mereka 5.000-an, mereka tidak bersedia menerima uang kembalian yang kami berikan,” kata Mustari.
    Hal itu pun dibenarkan oleh Ambo, juru parkir di jalan Veteran Selatan, Makassar. Juru parkir-juru parkir kusta itu tentu senang mendapatkan banyak uang karena pengemudi mobil tidak mau menerima uang kembalian, tetapi dari sisi kemanusiaan, perlakuan para pengemudi mobil terhadap mereka itu menyakitkan.
    Mustari juga pernah bekerja sebagai penarik becak. Namun, pekerjaan itu ia tinggalkan karena tidak ada warga yang mau naik becaknya.
    Di era 1970-1980-an, penderita kusta sangat ditakuti. Warga bahkan menutup pintu rumah saat pengemis kusta lewat di depan rumah mereka. “Sejak kami masih di ujung jalan, pemilik rumah sudah menaruh uang di kaleng di depan rumah. Mereka meminta kami segera mengambil uang itu dan segera pergi,” kata Mustari yang juga pernah terpaksa mengemis.
    Bahkan masih di era yang sama, warga Makassar enggan mengonsumsi
buah tomat jenis tertentu yang ditanam oleh penderita kusta.
    Inilah sederetan perlakuan diskriminatif yang terpaksa mereka terima. Permukiman mereka pun bahkan terisolasi. “Sekarang sudah agak terbuka, ada warga yang kawin dengan orang sehat. Tapi dulu, orang benar- benar tidak mau datang ke sini,” Abdul Latif.
    Saking terisolasinya, Labbang-warga Jongaya yang bukan penderita kusta-memilih tempat ini sebagai tempat bersembunyi saat silariang (kawin lari) dengan istrinya tahun 1987. “Kalau di sini, pasti tidak ada yang cari,” kata Labbang yang masih menetap di Jongaya.
    Saat RS Haji dibangun, pemerintah sebenarnya ingin memindahkan penderita kusta ke Kabupaten Gowa. Akan tetapi, warga Gowa menolak
keras rencana ini. Mereka menghancurkan dan membuang bahan-bahan bangunan yang sedianya akan digunakan untuk membangun rumah bagi
penderita kusta. Karena itu, hingga kini penderita kusta di Makassar masih berdiam di Jongaya.

Sulit kerja
    Sementara itu, diskriminasi dan stigmatisasi juga terus membayangi 1.700 eks penderita kusta dan 2.600 anak cucu mereka yang menempati penampungan di kompleks serbaguna di belakang RS Kusta Sitanala, Tangerang.
    Pengurus Yayasan Santunan Insan Penderita Kusta dan Keluarganya di Indonesia (SIPKKI) Bina Mandiri, Badar Bajrey,mengaku kesulitan mengupayakan kerja bagi mantan penderita kusta di sana.
    Eks penderita kusta ini ada yang menjadi penyapu jalan, penarik becak, pengemis, atau kebetulan menjadi pegawai negeri. Namun, masih banyak eks penderita kusta yang kesulitan ekonomi karena tiadanya pekerjaan. Sulitnya mereka mencari kerja tidak lepas karena stigma dan kurangnya sosialisasi oleh pemerintah.
    “Kami dipingpong antara Departemen Kesehatan dan Departemen Sosial. Depkes merasa tidak punya wewenang lagi atas eks penderita kusta, sementara di Depsos tidak ada bagian yang mengurus eks penderita kusta. Mereka hanya mengurus program untuk lansia, orang cacat, keterbelakangan mental, ataupun AIDS. Tidak ada program untuk orang kusta,” kata Badar.
    Kalaupun ada eks penderita kusta yang berusaha mandiri dengan memproduksi barang kerajinan atau makanan, tidak ada orang yang mau
membeli setelah tahu barang tersebut dari Sitanala.
    “Kami berusaha memasukkan 300 penyapu jalan kepada Wali Kota Tangerang, menjadi pemotong rumput di Bandara Cengkareng, tapi semua
ditolak dan diminta pulang ke daerah asal padahal kami ini ber-KTP
Tangerang. Bagaimana nasib kami ini kalau di ‘rumah’ sendiri
ditolak?” keluh Badar. 

***

Iklan

4 thoughts on “[Kutipan] Kusta:Masih Ada Diskriminasi dan Stigmatisasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s