Most Viewed: Kisah Seorang Dokter Pemerhati Terumbu Karang

Photostream-ku ini paling banyak di View.. 73 views.. *pamer..hehehe.. sebenarnya kaget juga..heh, sampai 73 kali??? terbanyak kedua hanya 28 views kok. *heran juga..baiklah. ku upload di MP kalau begitu 😀 jarang2kan. hihi. bukan sebuah foto sih. lebih tepatnya lembaran layout majalah di kampusku.SINOVIA. yah.. aku yang layout. walaupun bukan aku yang tulis.hahaha.. lembaran terakhir yang ku layout sebelum “pensiun” jadi layouter.

kisah seorang dokter pemerhati terumbu karang

Lokasi : Pantai Selayar
fotografer : Benedicta Wayan Suryani Wulandari, dr, SpM
Layouter : may ’06
Penulis/Editor : Any-Asri

Menjadi seorang dokter mungkin memiliki nilai kebanggaan tersendiri. Nama besar seorang dokter menjadi sesuatu yang begitu diharomati di lingkungan masyarakat. Hingga menjadi dokter besar dan ternama merupakan impian banyak dokter saat ini. Namun, bagaimana dengan nasib dokter yang mengabdikan dirinya di daerah terpencil? Mungkin tak dapat meraih nama besar layaknya dokter-dokter di kota besar, namun jika kita memandang di sudut yang berbeda, ternyata banyak nilai plus yang dapat kita pelajari di daerah tersebut. Hal inilah yang coba untuk ditunjukkan oleh Dokter Benedicta Wayan Suryani Wulandari, Sp.M seorang dokter yang telah sekitar 3 tahun mengabdikan dirinya di RSUD Selayar.

Beberapa waktu lalu dengan prakarsa Dokter Joko Hendarto, salah seorang dosen Falkultas Kedokteran Unhas, digelar talkshow seputar sisi lain seorang dokter. Talkshow yang mengangkat tema “Sisi Lain Seorang Dokter Terumbu Karang” berawal dari kunjungan dokter Joko ke Selayar yang merupakan tempat dr. Benedicta mengabdikan diri kepada masyarakat. Beliau kemudian tertarik dan mencoba membuka wawasan terhadap real life for being doctor sehingga digelarlah talkshow tersebut di FK Unhas. “Saya senang bisa sedikit membagi pengalaman saya selama bertugas di Kabupaten yang 95% wilayahnya adalah lautan, dengan 123 pulau yang tersebar mulai dari perairan Bira hingga Flores”, ungkap Dr. Benedicta dalam sebuah wawancara tertulis dengan tim reporter Sinovia. Saat ditanya mengapa mengambil tema seputar Terumbu Karang, dokter yang ramah dan murah senyum ini santai menjelaskan karena memang terumbu karang yang ia jumpai, alami, pelajari dan cintai di tempat ia bertugas.

Menurut Dokter yang menyelesaikan pendidikan spesialisnya di FK Unhas ini bahwa menjadi dokter bukan berarti kita menutup mata terhadap hal-hal menarik di luar sana.” being a doctor doesn’t mean we close our eyes for something else”, ujarnya. Penerapan long life learning bukan hanya untuk pendidikan kedokteran kita saja namun semua hal dan nilai-nilai lainnya yag dapat kita pelajari di dunia ini. Tak terkecuali bila jalan hidup membawa kita ke dunia terpencil, mengabdi pada kemanusiaan dengan sarana seadanya, kita masih dapat mempelajari banyak hal yang berbeda. “Kalau di kabupaten kepulauan selayar, belajar konservasi penyu, scuba diving, management resort, desain T-shirt & souvenir lain, dll”.

Saat ditanya harapan Beliau seputar talkshow-nya, Ibu dari tiga anak ini berharap baik mahasiswa kedokteran maupun dokter-dokter bisa memandang masa depan dengan lebih yakin, lebih punya rasa ingin tahu, dan seimbang antara skill sebagai dokter (sharp diagnostic & good treatment) dengan skill kemasyarakatan. Kedua, seimbang antara pekerjaan dan hobi karena ibaratnya, hobi bisa me-recharge energi kita dalam bekerja, supaya bisa selalu full service dan masyarakat bisa menilai baik hasil kerja kita. Dan yang ketiga, supaya teman-teman tidak takut bekerja di daerah terpencil sebab banyak hal baru yang bisa ditemui dan dipelajari. “As long as we had the attitude. No problem at all”, ungkapnya mengakhiri wawancara.
(dikutip dari majalah Sinovia FK UNHAS edisi 35)

*Terinspirasi dari postingannya Haya yang berjudul “Most Viewed” Setelah baca postingan itu, iseng-iseng buka flickr ku. dan mencari most viewed ku juga. hehehe.. ternyata Photostream ini yang banyak di viewed.

beberapa fotonya bisa dilihat di sini sebuah keindahan pantai di pulau Selayar…… salah satu pulau di Sulawesi Selatan yang cukup terpencil..sudah pernah ke pulau ini tapi blum sampai DIVING..hihi.. *kapan yah??? blum pintar2 berenang soalnya ^^




Catatan Dibalik Tulisan ini…

saya ingat, ketika sedang merapatkan dengan beberapa Kru Sinovia ingin memilih sosok siapa yang mengisi halaman “SINO INSPIRASI” ini. ada hati yang menginginkan mengangkat seorang sosok Prof yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di luar negeri dan sedang berjalan-jalan di kota kelahirannya. Deretan Gelarnya sudah seperti kereta api. Ada puluhan negara yang sudah ia jelajahi. Mungkin bisa menginspirasi banyak pembaca untuk bisa jadi seperti sosok beliau. Jadi orang hebat di negeri orang. Namun, ternyata hati lebih memilih sosok dokter Benedicta. Seorang dokter SPESIALIS yang mengabdikan hidupnya di daerah terpencil. Dokter umum sebenarnya sudah banyak yang mengabdi/PTT di daerah terpencil, tapi untuk dokter spesialis, saya baru menemukannya. 

Ini bukan pilihan yang mudah bagiku selaku pemegang keputusan tertinggi. Keterbatasan sarana, akhirnya memilih penanggung jawab rubrik untuk wawancara via email. Dan karena itu, dokter benedicta rela ke kota hanya untuk mengirimkan jawaban pertanyaan wawancara kami dan koleksi foto-fotonya.

Terima kasih dok. Semoga, tulisan ini bisa menginspirasi banyak dokter-dokter lainnya. 
Dan kunyatakan, ini adalah karya terbaik yang bisa kupersembahkan diakhir kepengurusanku… 

at my pinky room
15/07/2010 22.00

Iklan

21 thoughts on “Most Viewed: Kisah Seorang Dokter Pemerhati Terumbu Karang

  1. otodidak di photoshop atau corel aja.. coba smua fiturnya. anggap aja lagi maen game.. pokoknya coba semua ajaaa..haha.. nanti juga pasti bisa..

    ini layout standar kok. backgroundnya diambil dari fotonya juga. diperbesar sesuai besar halaman. abis itu foto2 kecil ditata biar cantik. trus tulisannya, biar ngak nyatu dengan background yang gelap, dilapisi layer yang agak ditransparankan.. biar kesan “bawah laut”nya tetap dapat..hehehe…

  2. dilema banget memang maya. tapi satu hal yg pasti. hubungan antar limuwan kita kental kok. coba aja gabung milis beasiswa atau PPI (Persatuan Pelajar Indonesia). bejibun banyaknya orang Indonesia yg kasih tips2 dan info tentang beasiswa keluar. banyak dari mereka yg setelah balik mengabdi jadi dosen di tanah air..

    aku berharap kalau Indonesia bisa meniru Cina yg memajukan negaranya perlahan-lahan dari luar. menarik devisa sebanyak mungkin dari luar negeri ke negaranya dia.

    sebagai contohnya di Amerika. Profesor2 keturunan Cina udah ngga bisa dihitung berapa ribu menarik orang dari negaranya untuk belajar di kampus2 top di Amerika. dan setelah sekarang ekonomi negaranya dan politik dalam negerinya kuat, mereka membangun bersama. profesor2 itu ada yg balik tp ada jg yg tetap disana. yg penting adalah tetap berbagi ilmunya itu loh. sama berbagi proyek riset ^____^

  3. oh iya. untuk riset mendasar tentang sains murni. kita tidak bisa menyalahkan beberapa ilmuwan yg tetap berada di luar dan hanya bisa membantu dengan menarik mahasiswa Indonesia kesana.

    riset sains murni butuh dana penelitian triliunan soalnya. duit yg dengan mudahnya dibuat foya-foya ama pejabat2 kita -___-

  4. hahaha… ini juga karena terpaksa kok mas isa. waktu di kepengurusanku cuman ada 1 layouter yang merangkap jadi fotografer. namanya haekal. idealnya, 2 atau 3 orang kan. Layouter ku ini sering keteteran, jadi bisa molor sampai 1 bulan gara2 nunggu selesai di layout. akhirnya untuk edisi selanjutnya saya cari beberapa teman yang pintar nge layout buat gabung di sinovia. tapi dasar anak FK, banyak yang tertarik dengan organisasi ini. malah maya pakai acara mohon2 segala. karena kesal, dan sia2. akhirnya kuputuskan diriku saja yang kugunakan. padahal, sumpah, liat photoshop aja ngak pernah. akhirnya belajar otodidak, pinjam buku2 photoshop, belajar dari haekal. dan alhamdulillah, untuk edisi selanjutnya, kami berdua layouternya. Tapi saya masih kebagian rubrik2 sederhana dan tidak terlalu “penting”.. paling di halaman2 belakang.. hehe.. untuk cover dan liputan utama masih haekal yang pegang.. begitu juga tentang fotografernya. kenapa saya bisa jatuh cinta sama dunia motret.. yah.. gara2 ini. kekurangan sumber daya manusia yang memiliki potensi.. ternyata potensi terbesar itu ada di diri kita sendiri. cuman terkadang kita tidak tahu itu..hihi… ^____^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s