[Kutipan] Perempuan dan Film

Perempuan dan Film

oleh Dian Sastrowardoyo

dikutip dari http://blog.diansastrowardoyo.net/


Sebagai seorang perempuan saya menyadari betapa dekatnya saya dengan film. Bukan hanya sebagai pekerja film, tetapi juga sebagai penikmat film sebagai oksigen hidup saya.  Bagi saya, banyak sekali fase dalam kehidupan seorang perempuan yang bisa dirayakan dengan menyaksikan sebuah film.  Saat saya tengah ’down tempo’
(ini terminologi yang saya gunakan bersama teman-teman ketika kami memerlukan ’asupan semangat’) misalnya, saya pasti menghabiskan waktu luang saya untuk menyaksikan sederet feel good movie bersama teman-teman saya. Inilah serangkaian film yang memang dibuat untuk pasar penonton perempuan yang sedang merasa perlu diingatkan bahwa mereka pasti bisa melalui semuanya.

Serangkaian judul film yang pernah menjadi menu girls movie night kami antara lain adalah: The Sweetest Thing (Roger Kumble, 2002 ),  Shop Girl (anand tucker 2005,) Sex And The City (Michael Patrick King, 2008) bahkan Charlie’s Angels : the movie, (McG 2000). Walaupun itu adalah film-film ringan, namun cukup efektif untuk membuat kami lebih optimistis saat membaca credit tittle di penghujung film. Saya menyadari bahwa film ternyata kini telah berubah fungsinya menjadi salah satu alat bertahan, survival essentials, untuk seseorang individu. Tidak hanya perempuan, tetapi para lelaki (terutama mereka yang masih lajang dan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan sendirian) berupaya mempertahankan kewarasannya di tengah riuh rendahnya hidup  hanya dengan bermodalkan stok koleksi dvd di kediamannya. Dengan kata lain, film menjadi sebuah eskapisme dari kerutinan sehari-hari yang mendera, yang kelak menciptakan sebuah renungan tentang hidup.

  Namun, selain pengisi jiwa, di dunia industri, film juga memiliki pengaruh yang luar biasa. Jika kita meneropong gaya hidup perempuan melintasi masa misalnya, film dapat menjadi sumber yang sangat mudah untuk dijadikan referensi. Dari perspektif perkembangan fashion dan  gaya hidup, kita sudah bisa menjejerkan beberapa judul film yang berhasil menangkap detail fashion dan gaya hidup yang sangat menarik seperti The Devil Wears Prada (David frankel,2006); Sex & The City (Michael Patrick King, 2008), Marie Antoniette (sofia coppola, 2006), Darlings, pret a porter : ready to wear (robert altman, 1994) dan Annie Hall (Woody Allen, 1977). Film telah menjadi artefak budaya yang selalu menjadi ’teks’, dimana kita di dalamnya, kita ’membaca’ atau memahami lebih jauh mengenai kebudayaan manusia.  Dalam hal ini, ’teks’ dalam film kita lihat sebagai isi (content) yang kompleks dari kejadian-kejadian  (gambar, kata, bunyi) yang berhubungan satu sama lain didalam sebuah  konteks yang bisa menjadi cerita atau narasi. Namun marilah kita coba melihat lebih dalam lagi tentang bagaimana film selama ini mempersepsikan perempuan.

Perempuan sebagai objek di dalam Film

Apa yang kita bayangkan dari film-film seperti James Bond, Scream, I Know What You Did Last Summer, American Pie, Bourne Ultimatum? Film-film ini menggambarkan perempuan dengan keindahan fisik yang luar biasa (yang biasanya jauh sekali dari penampilan perempuan sehari-hari), dengan wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna, dan dengan baju dan penampilan yang sengaja memfokuskan pada keindahan tubuh tertentu. Buah dada yang besar, kaki luar biasa jenjang dan rambut bak mayang terurai adalah penampilan dari figur perempuan yang menjadi resep membuat film yang laku di pasaran. Di dalam film, perempuan sering sekali digambarkan sebagai pemanis, penghias, dan tidak memiliki urgensi kepentingan peran apapun terhadap jalan cerita keseluruhan. Mereka muncul  sebagai sosok yang perlu diselamatkan atau ditolong. Ini adalah sudut pandang pembuatan film yang sangat patriarkis, atau lebih parah lagi bersifat phallocentric.  Film-film ini menggunakan sudut pandang laki-laki. Maksudnya adalah bahwa yang membuat film ini mengandaikan bahwa yang menonton film itu  adalah laki-laki semua, atau cerita yang digarap menggunakan cara pikir laki-laki. Yang menarik dalam hal ini adalah: bagaimana penonton film menyaksikan film yang berlogika maskulin, ini berarti membuat perempuan membaca teks yang tidak bisa menggambarkan perempuan secara utuh. Perempuan dilihat hanya sebatas definisi fisiknya saja: memiliki tubuh dengan buah dada, pinggang yang kecil, kaki yang ramping dan rambut panjang. Sementara perempuan sebenarnya jauh lebih plural daripada definisi yang sederhana itu. Ada banyak sekali dimensi kehidupan, karakter dan cara pikir perempuan yang tentunya tidak akan dipahami oleh sang pembuat film yang maskulin itu, karena tentunya mereka tidak pernah mempunyai pengalaman hidup sebagai perempuan.

Yang  kurang menguntungkan bagi kita adalah para penonton perempuan saat menonton film sejenis ini menjadi terbiasa membaca diri nya sendiri dengan sudut pandang laki-laki; dari sebuah sudut pandang yang meredusir atau menyederhanakan sosok perempuan. Perempuan hanya didefinisikan dari fisik belaka. Pada gilirannya, kitapun mengukur ke-‘perempuan’an kita  sebatas penampilan fisik saja, sehingga kita sebagai kaum perempuan di zaman modern ini jadi terlalu repot dan terlalu sibuk mendefinisikan diri kita sebagai perempuan melalui segi penampilan fisik. Karena kita terlanjur memiliki peikiran bahwa definisi fisik adalahlah satu-satunya definisi yang menjadikan kita perempuan, maka kita terlalu sadar diri (self-conscious) terhadap bentuk tubuh kita(apakah kulit saya cukup normal untuk kulit ‘perempuan’? rambut saya cukup ‘perempuan’? apakah bentuk kaki atau lengan saya cukup ‘perempuan’? apakah buah dada saya cukup ukurannya sehingga cukup ‘sah’ untuk menjadikan saya ‘perempuan’?). Tanpa kita sadari kita terlalu banyak menghabiskan energi, waktu, dan uang demi merawat bahkan memodifikasi bentuk tubuh yang kita miliki. Kita lupa dengan multi dimensi lain yang dimiliki oleh perempuan.

            Namun kabar baik bagi para penonton perempuan adalah, saat ini telah lahir  sineas perempuan yang memiliki wewenang untuk menentukan isi film yang menggambarkan komplesitas perempuan.

 

Perempuan yang menciptakan teks tentang perempuan.

Seorang sutradara perempuan, penulis skenario perempuan, produser perempuan memiliki kuasa atau wewenang untuk menciptakan representasi perempuan yang melawan sistem patriarkis. Melalui film-film seperti ini, para penonton perempuan dapat ‘membaca’ teks yang karya sineas perempuan juga. Kita jadi dapat lebih mengerti diri kita sebagai perempuan dengan melihat bagaimana perempuan lain mencoba menulis tentang dirinya atau tentang apa yang dia pahami tentang perempuan, tentunya lengkap dengan berbagai aspek yang multi dimensional akan menjadi seorang perempuan.

Film-film yang mampu berbicara yang lahir dari sineas perempuan adalah The Piano (Jane Campion, 1993), Monster (Patty Jenkins, 2003), Virgin Suicides(Sofia Coppola, 1999), Lost in Translation (Sofia Coppola, 2003), Monalisa Smile (mike newell, 2003) ,Frida (Julie Taymor,2002)

 Sementara beruntunglah kita, di Indonesia walaupun dunia film masih tergolong baru lahir, banyak juga tokoh sineas perempuan yang langsung ikut mewarnai menu perfilman nasional: Nan T. Achnas dengan film Pasir Berbisik (2001), Nia Dinata dan kawan-kawan dengan rangkaian film pendek “Perempuan Punya Cerita (2007).

Dengan dosis sehat menonton film perempuan seperti ini, kita jadi tidak terjebak dalam definisi dangkal yang itu-itu saja dalam memaknai diri kita masing-masing sebagai kaum perempuan. Kita juga dapat lebih menghormati ke’perempuan’an kita yang lebih utuh yang lebih lengkap dengan multi dimensi kehidupan kita dengan berbagai peran dan tantangannya. Kita dapat lebih berani menciptakan definisi diri kita sendiri yang lebih independen, tidak lagi bergantung pada peradaban patriarki untuk memberikan definisi mereka yang terbatas untuk menandai kita perempuan, tidak lagi tunduk dengan pendapat yang diberikan dari luar tetapi lebih mandiri untuk menciptakan pendapat dari dalam. Mari kita membebaskan diri dari sistem penandaan maskulin, mari kita ciptakan sendiri logika dan cara berpikir feminin yang bebas dari judgement, dogma, cara pandang yang misoginis.

Day 03 of MAYA – A photo that makes me sad

rumahmelanjutkan ber-MEME-an.hehehe.. kuputuskan loncat lagi ke day 03 of MAYA. A photo that makes me sad. *tetap tak ada yang protes.hehe..
yah.. foto ini memang selalu membuatku sedih. rasanya ingin pulaaaaangggg ke kota kecil yang memaksaku tumbuh^^…  foto ini diambil dari jalan kecil dibelakang rumah liburan semesteran 2 tahun yang lalu. dan rumah2 yang berjejer itu, salah satunya adalah rumah yang sempat saya sekeluarga tempati selama 9 tahun. Rumah dinas. Rumah yang kami tahu tak akan pernah memilikinya tapi kenangan bersama rumah itu tak akan pernah dimiliki orang lain. Rumah yang kami tahu, suatu saat dan kapan saja akan meninggalkannya. dan sawah itu, sebuah jalan pintas bagiku dan adikku agar cepat mencapai rumah. hahaha.. SDku tidak jauh dari rumah itu. ketika jadwal pulang sekolah lebih cepat dari biasanya. aku, adikku, dan teman2 SD lain yang searah rumahnya akan pulang bersama dan melewati pematang sawah. sangat menyenangkan dibanding harus melewati jalanan beraspal yang artinya harus keliling dan memakan waktu yang lama.hanya ketika SD saja. ketika SMP dan SMA sudah begitu jarang melewati jalanan kecil dibelakang rumah.
oh iya, kudengar katanya sawah dibelakang rumah sudah semakin sempit karena dibangun rumah2 permanen…

sawah dan rumah..

Day 07 of MAYA : A photo that makes me hungry

1

1

Hehehe… memang tidak konsisten sebenarnya. harusnya mengupload day 01 of MAYA: A photo that makes me happy..
susah. terlalu banyak stok foto yang bisa membuatku bahagia..^^ jadi skip saja dulu, loncat ke…. A photo that makes me hungry.. *ngak ada yg protes kan..hehehe…
foto ini diambil ketika lebaran Idul Adha 2009. Sesaat sebelum makan2..hehehe.. semuanya adalah hasil buatan mamaku plus kakak ku dan sedikit dirikuuu.. difoto sebelum adikku yang gendut menghabiskan semuanya.. 

*oh iya, harusnya a photo saja.. tapi upload 2 foto.. hihi… ngak papa 😀 😀 😀

lagi demam MEME. ikutan ah… tapi versi MAYA ^^

Termasuk orang yang gagap informasi ngak yah??? baru tahu kalo di MP lagi seru berMEMEan atau 30 hari ngeblog… hehehe. beneran baru tau. pantasan kalau buka MP, beberapa kontak saya (*kak ancha, omali, dkk) ada yg menulis Day 01, day 02….sampai day 30..huihhh… semangatnya menulis ^^
setelah dipikir-pikir sepertinya lumayan seru juga. nulis dengan target. tiap hari harus ngepost tulisan dengan tema yang telah ditentukan. dipikir2…ikut ngak yah..kayak seru..hahaha… ini tema yang ditentukan dari MEME:
Day 01- Your favourite song
Day 02 – Your favourite movie
Day 03 – Your favourite television programme
Day 04 – Your favourite book
Day 05 – Your favourite quote
Day 06 – Whatever tickles your fancy
Day 07 – A photo that makes you happy
Day 08 – A photo that makes you angry/sad
Day 09 – A photo you took
Day 10 – A photo of you taken over ten years ago
Day 11 – A photo of you taken recently
Day 12 – Whatever tickles your fancy
Day 13 – A fictional book
Day 14 – A non-fictional book
Day 15 – A fanfic
Day 16 – A song that makes you cry (or nearly)
Day 17 – An art piece (painting, drawing, sculpture, etc.)
Day 18 – Whatever tickles your fancy
Day 19 – A talent of yours
Day 20 – A hobby of yours
Day 21 – A recipe
Day 22 – A website
Day 23 – A YouTube video
Day 24 – Whatever tickles your fancy
Day 25 – Your day, in great detail
Day 26 – Your week, in great detail
Day 27 – This month, in great detail
Day 28 – This year, in great detail
Day 29 – Hopes, dreams and plans for the next 365 days
Day 30 – Whatever tickles your fancy


*thinking..
Haduuuh..kayak susah. hehe…banyak judul yang sulit.contohnya saja. A You tube video.hehehe. seumur hidup belum pernah buka situs You Tube ^^. trus fanfic. saya tidak ngerti maksudnya dan whatever tickle your fancy..kenapa harus 3 kali coba ^^
yaudah… bikin versi sendiri ah..
30 hari spertinya sulit. kuperpendek menjadi 7 hari saja atau 15 hari? hehehe..terserah. dan ini lah tema yang dibuat oleh MAYA ^^

Day 01 of MAYA A photo that makes me smile
Day 03  of MAYA – A photo that makes me sad/cry
Day 05 of MAYA – A photo that makes me stress
Day 07 of MAYA – A photo that makes me hungry
Day 09 of MAYA – A photo that makes me  angry
Day 11 of MAYA – A photo that makes me calm
Day 13 of MAYA – A photo that makes me laugh
Day 15 of MAYA – A photo that makes me happy
sengaja dibuat ngak tiap hari.. yah…supaya ada jeda lah untuk berpikir. tapi tergantung MOOD sih.hehehe. ada yang mau ikutan??? ^^ boleh2. sebenarnya dibuat untuk diri sendiri saja. tapi kalau mau ikutan tidak apa2.haha. peraturannya bisa berubah kapan saja.. ^^ dan yang pasti fotonya taken sendiri yah? hihi… tapi kalau mau cari digoogle terserah juga asal dicantumkan alamatnya..oh iya, urutan temanya terserah saja. ngak harus berurut yg saya buat. terserah deh pokoknya…


funny how a photograph can take you back in time to places and embraces that you thought you left behind
(Kenny Loggins-You Heart Will Lead You Home)