ADA APA DENGAN PTT?

Balada Dokter Kontrak

Menyimak penggalan lalu balada dokter kontrak yang berbunyi : “…didesa dan dikota, bagiku sama saja, walaupun ditengah malam bagiku tugas tetap kujalankan”

Merupakan sebuah kebanggan tersendiri profesi dokter bagi kita, tangan seorang dokter bagi sebagian orang tak anyal di ibaratkan sebagai tangannya malaikat, karena kita dianggap sebagai penentu hidup matinya seseorang.

Apalagi didaerah pedesaan (baca:terpencil, red.) peran seorang dokter sangatlah dihargai. Penghargaan mereka bukan hanya dari segi materiil, melainkan dari segi moril. Tetapi, ada muncul secuil pendapat yang mengatakan dokter malas ( baca : enggan, red ) bertugas didesa dengan segala keterbatasannya. Apakah itu benar atau salah silahkan masing-masing dari kita menjawabnya.

Petugas Tidak Tetap merupakan salah satu bentuk program pelemparan dokter ke tampat-tempat terpencil.  Tentunya, ada sisi kelebihan dan kekurangan program ini. Masalah distribusi gaji, masalah susahnya transportasi ke tujuan, kurangnya sarana dan prasarana merupakan sedikit dari sekian banyak masalah yang kerap kali muncul dalam PTT. Tetapi sisi pengabdian masyarakat, sisi pengaplikasian ilmu, sisi balas jasa, dan masih banyak lagi menjadi adrenalin tersendiri untuk  menjalani PTT.

Dari sekian banyak pertanyaan mengenai PTT ada beberapa hal yang mendasar yang wajib kita ketahui. Misalnya, mengenai wajib tidaknya, mengenai jenisnya, mengenai lamanya, dan juga konsekuensinya.

Tetapi semua hal itu kembali kepada kita. Toh, hidup ini adalah pilihan. Dan silahkan kita memilih diantara banyak pilihan hidup kita. Dan PTT merupakan salah satu jawaban yang tersedia dari sekian banyak multiple choice yang harus kita silangi dalam hidup ini. Apakah anda akan menyilangi PTT sebagai bagian dari hidup anda? Kami tunggu jawabannya.

“………Andai aku bertugas diluar kota nanti, bagiku adalah soal biasa, sunyi dn sepi bukanlah suatu persoalan karena ini, karena ini kemanusiaan”

ADA APA DENGAN PTT?

Petugas tidak tetap atau kerap dikenal dengan sebutan PTT, bukan barang baru di Indonesia. Hal ini sudah dikenal sejak puluhan tahun yang silam. Meskipun sudah lama, hal ihwal mengenai penting tidaknya PTT kerap kali dipertanyakan. Salah seorang alumnus Fakultas Kedokteran Unhas, Dr. Indrahayu, Sp.S, mengatakan bahwa  dengan adanya PTT maka kita memiliki banyak pengalaman, oleh karena itu sebaiknya PTT diadakan saja. Tetapi, salah satu resikonya adalah kita agak terlambat untuk mengambil spesialisasi, tambahnya. Yah, masalah waktu adalah salah satu permasalahan dalam PTT.

Hampir semua institusi di negeri ini memberlakukan sistem PTT. Tetapi berbeda institusi, berbeda mekanisme. Di ruang lingkup kesehatan yang di kelola oleh Dinas Kesehatan juga dikenal PTT. Malah, menurut penjelasan Kasubag Kepegawaian Dinas Kesehatan, dalam ruang lingkup kesehatan ( dokter umum dan dokter gigi ) sifat PTT ini adalah wajib. Karena PTT merupakan salah satu syarat seorang tenaga kesehatan mengikuti  tes Pegawai Negeri Sipil. Bahkan tanpa PTT,  bisa jadi seorang dokter tidak mendapatkan surat izin praktik.

Beliau menambahkan, dalam ruang lingkup Dinas Kesehatan sendiri ada tiga jenis PTT.  Yaitu,  PTT Pusat, PTT Daerah, dan PTT cara lain. Pembagian ini tergantung dari siapa yang mengeluarkan surat keputusan dan yang memberi gaji. Untuk PTT Pusat dikelola oleh dinas kesehatan dan digaji oleh Dinas kesehatan RI. Untuk PTT daerah digaji oleh daerah ( Bupati/walikota ) setempat, dan untuk PTT cara lain di gaji oleh pihak lain tersebut ( Swasta ). Sesuai dengan surat keputusan Menteri Kesehatan No. 1540/MENKES/SK/XII/2002 masa bakti bisa dilaksanakan dengan cara lain tersebut misalnya sebagai prajurit TNI/Polri, pegawai negeri sipil Departemen Kesehatan atau departemen lain, staf pengajar, karyawan badan usaha milik negara/daerah, karyawan sarana pelayanan swasta yang bersifat sosial di kabupaten di luar ibukota negara dan atau di luar ibukota provinsi, karyawan sarana pelayanan kesehatan pesantren atau lembaga keagamaan lain.

Tetapi, ketiga jenis PTT ini memiliki status yang sama. Oleh karena itu setelah menjalankan PTT, yang bersangkutan wajib melapor ke Dinas Kesehatan setempat agar terdata sebagai dokter yang sudah menjalani PTT.

Lama pengabdian untuk seorang dokter PTT pun bervariasi. Ada tiga kriteria untuk lamanya PTT, yaitu biasa ( 3 tahun ), terpencil ( 2 tahun ), sangat terpancil ( 2 tahun ). Semakin terpencil daerah tersebut maka semakin besar gajinya. Terkait dengan janji wakil presiden RI tentang kenaikan gaji PTT, beliau mengatakan ? Sekarang memang ada kenaikan, tetapi saya belun cek  berapa kenaikannya ?.

Yang menjadi salah satu pertanyaan besar dan kerap kali menjadi masalah dalam PTT adalah gaji, terutama mengenai distribusi gaji tersebut hingga ke tangan yang bersangkutan. Menanggapi hal tersebut, seorang dokter PTT yang merupakan salah satu alumni fakultas Kedokteran Universitas hasanuddin angkat bicara. Dia menuturkan bahwa pada saat dia PTT dulu ( 1998 ) memang ada cerita di sebagian temannya tetang ketidak lancaran pengiriman ( pemberian. Red ) gaji kepada dokter PTT. Tapi menurut pengalamannya, di daerah tempatnya dulu PTT ( Pangkep ) pemberian gaji lancar-lancar saja. ?Tidak ada masalah yang berarti? katanya.

Sebagian orang berpikiran bahwa setelah menjalani PTT maka akan langsung diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Ternyata pendapat seperti itu keliru. Hal ini diungkapkan ibu Treesje Zainal Abidin, SH, M. Si., beliau mengatakan PTT hanya menjadi syarat seorang dokter untuk mengikuti tes calon pegawai negeri sipil ( CPNS ), tapi bukan berarti setelah PTT seorang dokter langsung diangkat mejadi pegawai negeri sipil. Ketika dikonfirmasi mengenai ada beberapa dokter yang bisa menjadi pegawai negeri sipil tanpa harus melewati proses PTT,  kasubag kepegawaian ini mengatakan diera otonomi darah ini, Dinkes hanya bisa memberikan himbauan kepada tiap-tiap daerah mengenai mekanisme tersebut. Tetapi, keputusan untuk menerima seorang dokter sebagai peserta CPNS adalah sepenuhnya kewenangan dari kepala daerah setempat. ?Jadi, terserah kepala daerahnya mau menerima atau tidak dokter yang tanpa PTT? katanya.

Sehubungan dengan PTT ini beliau menyarankan kepada dokter yang belum PTT agar secepatnyalah mendaftarkan diri untuk PTT. Karena membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menunggu sampai berkas itu selesai diproses. Syaratnya tidak terlalu banyak, cukup memberikan ijazah dan surat permohonan. Nantinya, dari dinkes akan memberikan surat tanda sudah mendaftar.

Jadi, sekarang semua terserah kepada masing-masing  diri kita. Apakah mau menjalani PTT atau tidak dengan segala konsekuensinya.

Setidaknya lagu balada dokter kontrak sepertinya layak kita persembahkan kepada dokter-dokter PTT yang sekarang sedang menjalankan tugasnya.

Dikutip dari Majalah Sinovia Edisi 24

Iklan

12 thoughts on “ADA APA DENGAN PTT?

  1. karena ini cuma kutipan jadi gak bisa 'protes' ya mengenai isi artikelnya. anyway, sekedar meluruskan PTT adalah pegawai tidak tetap. masa tugas 1, 2 dan 3 tahun itu jaman baheula. sekarang PTT terpencil 1 tahun. PTT sangat terpencil 1 tahun juga kecuali maluku, maluku utara, papua, papua barat dan beberapa kabupaten yang tertinggal di indonesia. kemudian insentif dokter PTT sangat meningkat pada era siti fadilah supari (sayang beliau gak menjabat lagi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s