[Koas Anak] Mundur!

15 jam setelah ditumbalkan jadi chief…


setelah lama ngak ngatur2, ngak ngurus urusan orang lain, perintah sana-sini, akhirnya ditumbalkan juga jadi chief aka kapten minggu Perinatologi. dan tugas yang paling berat adalah mengatur jadwal jaga. benar2 sulit. sebenarnya sejak 2 hari yang lalu saya buat jadwal jaga secara kasar. tapi karena hilang entah kemana jadinya saya lembur juga tadi malam membuat ulangnya. mengatur jadwal jaga dan dinas benar-benar sedikit rumit. minggu 10 jaga 6, minggu 9 jaga 7, minggu 8 jaga 8, minggu 7 jaga 10, minggu 6 jaga 12. dan yang paling berat adalah berusaha seadil-adil mungkin. tak boleh pilih kasih. sayangnya kita hidup di Indonesia, KKN sudah jadi hal yang biasa. huff.. memang berat, kalo teman dekat dah kasih sinyal terang-terangan “may, saya ngecor didepan yah. saya jaga minggu, senin, selasa saja. soalnya rabu-sabtu depan mau saya pakai buat belajar. kalo sudah berhadapan dengan itu, ya… dilematis memang!
ok. inti permasalahan dari blog ini adalah hari ini saya merasa menjadi seorang chief itu benar-benar melelahkan..
dan baru beberapa menit sebelum memposting tulisan ini, saya menobatkan diri untuk mundur jadi chief, banyak alasan. saya capek ditekan kiri kanan, atas bawah.
“may, saya nda mau jaga sama XXX”,
“may, kenapa begini jadwal jagaku, saya tidak mau jaga minggu malam, apa maksudmu kasih saya minggu malam?”
“may, saya tidak mau jaga di peri atas, saya minggu 10, saya mau belajar. peri atas sibuk. banyak pasien2 gawat, kapan saya belajar kalo begini?”

so far, masih bisa terkendali.. sampai akhirnya (10 menit yg lalu) ada senior dari FK tetangga yang protes besar2an dengan jadwal jaganya. nelpon baik2 sambil marah2…kemudian perang SMS, dan bagiku sms yang paling membuatku langsung memutuskan untuk mundur itu adalah”
“POKOKNYA SY TDK MW! KALO KW TDK MW UBH ATW PRINT LIAT SJA NANTI SAPA YG DPAT MASLH!
YG JELAS SDH KU UBH! KALO KW TDK MW PRINT,NANTI SY YG PRINT ULANG!
YG JELAS JAGA KU SY GANTI SESUAI YG KU BLG!
KW IT ENAK SJA ATURKAN JAGAKU!

Seumur hidupku, baru ada yg sms saya begitu tidak beretikanya. hmm.. “DPAT MASLH”, sepertinya saya lagi berhadapan dengan orang yg punya kuasa.baiklah!
dan atas dasar itu, saya MUNDUR! saya tau ini memang salah. ini memang bukan maya banget. pengecut malah. tapi saya benar-benar tidak terima ditekan seenaknya seperti itu.
subdivisi Peri memang melelahkan.. dan semua orang ingin cari enaknya…….
makanya dinamakan PERI BAHAGIA, karena selalu saja ada yang bahagia diatas penderitaan orang lain.. selalu saja ada yang ditumbalkan kalo ada masalah di peri

begitulah hidup!

pesan moral cuman 1. siapkan mental dan batin sebelum masuk koas di Anak. itu saja.



my sweety pinky room
23.45, sesaat sebelum terlelap untuk menghadapi hari yang lebih.besok!

Iklan

[copas] Feeling Blue at Bira beach

Photo by: Arnisa Andi Makmur. FK Unhas angkatan 2003
Location : Tanjung Bira, Bulukumba. South Sulawesi, Indonesia.
Date Time Original : 7:58 a.m., Sunday, December 13th 2009.

Keinginan ke pantai benar-benar tak tertahankan lagi.. huff. sayangnya itu adalah hal yang paling tak mungkin.. sekarang sudah masuk subdivisi hematologi minggu depan perinatalogi.. hohoho.. nda ada kosong siang pastinya..kalo malam sih mungkin tapi masa mau kepantai malam-malam.. bisa masuk angin trus sakit trus ngak datang koas dunk.heheh

ya sudahlah.. searching foto2 pantai saja.. iseng2 buka webnya kak Nica. kakak senior di FK angkatan 2003. dia ini kakak senior yang paling bertalented soal motret-motret.. biasanya foto-fotoku terinspirasi dari karyanya..
dan akhirnya menemukan 1 folder foto-foto waktu di pantai bira Sulawesi selatan.. benar-benar mengagumkan.. pantai di bali dan lombok memang lewat deh.. dijamin..salah satu pantai kebanggannya sulawesi selatan pastinya. ^^
saya sudah 3 kali ke pantai ini.. lumayan jauh sih sebenarnya. ada 4 jam dari makassar. waktu itu perginya pas lagi KKN di bantaeng..(sekitar 6 bulan yang lalu) hehehe. kan jaraknya ngak jauh-jauh banget.. 😀 paling cuman 1 jam..

thanks buat kak nica.. ku upload fotonya yah.. ^^

pantainya benar-benar mauuuuuuu….. kapan yah bisa kesini lagi??
😀 😀 😀

ADA APA DENGAN PTT?

Balada Dokter Kontrak

Menyimak penggalan lalu balada dokter kontrak yang berbunyi : “…didesa dan dikota, bagiku sama saja, walaupun ditengah malam bagiku tugas tetap kujalankan”

Merupakan sebuah kebanggan tersendiri profesi dokter bagi kita, tangan seorang dokter bagi sebagian orang tak anyal di ibaratkan sebagai tangannya malaikat, karena kita dianggap sebagai penentu hidup matinya seseorang.

Apalagi didaerah pedesaan (baca:terpencil, red.) peran seorang dokter sangatlah dihargai. Penghargaan mereka bukan hanya dari segi materiil, melainkan dari segi moril. Tetapi, ada muncul secuil pendapat yang mengatakan dokter malas ( baca : enggan, red ) bertugas didesa dengan segala keterbatasannya. Apakah itu benar atau salah silahkan masing-masing dari kita menjawabnya.

Petugas Tidak Tetap merupakan salah satu bentuk program pelemparan dokter ke tampat-tempat terpencil.  Tentunya, ada sisi kelebihan dan kekurangan program ini. Masalah distribusi gaji, masalah susahnya transportasi ke tujuan, kurangnya sarana dan prasarana merupakan sedikit dari sekian banyak masalah yang kerap kali muncul dalam PTT. Tetapi sisi pengabdian masyarakat, sisi pengaplikasian ilmu, sisi balas jasa, dan masih banyak lagi menjadi adrenalin tersendiri untuk  menjalani PTT.

Dari sekian banyak pertanyaan mengenai PTT ada beberapa hal yang mendasar yang wajib kita ketahui. Misalnya, mengenai wajib tidaknya, mengenai jenisnya, mengenai lamanya, dan juga konsekuensinya.

Tetapi semua hal itu kembali kepada kita. Toh, hidup ini adalah pilihan. Dan silahkan kita memilih diantara banyak pilihan hidup kita. Dan PTT merupakan salah satu jawaban yang tersedia dari sekian banyak multiple choice yang harus kita silangi dalam hidup ini. Apakah anda akan menyilangi PTT sebagai bagian dari hidup anda? Kami tunggu jawabannya.

“………Andai aku bertugas diluar kota nanti, bagiku adalah soal biasa, sunyi dn sepi bukanlah suatu persoalan karena ini, karena ini kemanusiaan”

ADA APA DENGAN PTT?

Petugas tidak tetap atau kerap dikenal dengan sebutan PTT, bukan barang baru di Indonesia. Hal ini sudah dikenal sejak puluhan tahun yang silam. Meskipun sudah lama, hal ihwal mengenai penting tidaknya PTT kerap kali dipertanyakan. Salah seorang alumnus Fakultas Kedokteran Unhas, Dr. Indrahayu, Sp.S, mengatakan bahwa  dengan adanya PTT maka kita memiliki banyak pengalaman, oleh karena itu sebaiknya PTT diadakan saja. Tetapi, salah satu resikonya adalah kita agak terlambat untuk mengambil spesialisasi, tambahnya. Yah, masalah waktu adalah salah satu permasalahan dalam PTT.

Hampir semua institusi di negeri ini memberlakukan sistem PTT. Tetapi berbeda institusi, berbeda mekanisme. Di ruang lingkup kesehatan yang di kelola oleh Dinas Kesehatan juga dikenal PTT. Malah, menurut penjelasan Kasubag Kepegawaian Dinas Kesehatan, dalam ruang lingkup kesehatan ( dokter umum dan dokter gigi ) sifat PTT ini adalah wajib. Karena PTT merupakan salah satu syarat seorang tenaga kesehatan mengikuti  tes Pegawai Negeri Sipil. Bahkan tanpa PTT,  bisa jadi seorang dokter tidak mendapatkan surat izin praktik.

Beliau menambahkan, dalam ruang lingkup Dinas Kesehatan sendiri ada tiga jenis PTT.  Yaitu,  PTT Pusat, PTT Daerah, dan PTT cara lain. Pembagian ini tergantung dari siapa yang mengeluarkan surat keputusan dan yang memberi gaji. Untuk PTT Pusat dikelola oleh dinas kesehatan dan digaji oleh Dinas kesehatan RI. Untuk PTT daerah digaji oleh daerah ( Bupati/walikota ) setempat, dan untuk PTT cara lain di gaji oleh pihak lain tersebut ( Swasta ). Sesuai dengan surat keputusan Menteri Kesehatan No. 1540/MENKES/SK/XII/2002 masa bakti bisa dilaksanakan dengan cara lain tersebut misalnya sebagai prajurit TNI/Polri, pegawai negeri sipil Departemen Kesehatan atau departemen lain, staf pengajar, karyawan badan usaha milik negara/daerah, karyawan sarana pelayanan swasta yang bersifat sosial di kabupaten di luar ibukota negara dan atau di luar ibukota provinsi, karyawan sarana pelayanan kesehatan pesantren atau lembaga keagamaan lain.

Tetapi, ketiga jenis PTT ini memiliki status yang sama. Oleh karena itu setelah menjalankan PTT, yang bersangkutan wajib melapor ke Dinas Kesehatan setempat agar terdata sebagai dokter yang sudah menjalani PTT.

Lama pengabdian untuk seorang dokter PTT pun bervariasi. Ada tiga kriteria untuk lamanya PTT, yaitu biasa ( 3 tahun ), terpencil ( 2 tahun ), sangat terpancil ( 2 tahun ). Semakin terpencil daerah tersebut maka semakin besar gajinya. Terkait dengan janji wakil presiden RI tentang kenaikan gaji PTT, beliau mengatakan ? Sekarang memang ada kenaikan, tetapi saya belun cek  berapa kenaikannya ?.

Yang menjadi salah satu pertanyaan besar dan kerap kali menjadi masalah dalam PTT adalah gaji, terutama mengenai distribusi gaji tersebut hingga ke tangan yang bersangkutan. Menanggapi hal tersebut, seorang dokter PTT yang merupakan salah satu alumni fakultas Kedokteran Universitas hasanuddin angkat bicara. Dia menuturkan bahwa pada saat dia PTT dulu ( 1998 ) memang ada cerita di sebagian temannya tetang ketidak lancaran pengiriman ( pemberian. Red ) gaji kepada dokter PTT. Tapi menurut pengalamannya, di daerah tempatnya dulu PTT ( Pangkep ) pemberian gaji lancar-lancar saja. ?Tidak ada masalah yang berarti? katanya.

Sebagian orang berpikiran bahwa setelah menjalani PTT maka akan langsung diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Ternyata pendapat seperti itu keliru. Hal ini diungkapkan ibu Treesje Zainal Abidin, SH, M. Si., beliau mengatakan PTT hanya menjadi syarat seorang dokter untuk mengikuti tes calon pegawai negeri sipil ( CPNS ), tapi bukan berarti setelah PTT seorang dokter langsung diangkat mejadi pegawai negeri sipil. Ketika dikonfirmasi mengenai ada beberapa dokter yang bisa menjadi pegawai negeri sipil tanpa harus melewati proses PTT,  kasubag kepegawaian ini mengatakan diera otonomi darah ini, Dinkes hanya bisa memberikan himbauan kepada tiap-tiap daerah mengenai mekanisme tersebut. Tetapi, keputusan untuk menerima seorang dokter sebagai peserta CPNS adalah sepenuhnya kewenangan dari kepala daerah setempat. ?Jadi, terserah kepala daerahnya mau menerima atau tidak dokter yang tanpa PTT? katanya.

Sehubungan dengan PTT ini beliau menyarankan kepada dokter yang belum PTT agar secepatnyalah mendaftarkan diri untuk PTT. Karena membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menunggu sampai berkas itu selesai diproses. Syaratnya tidak terlalu banyak, cukup memberikan ijazah dan surat permohonan. Nantinya, dari dinkes akan memberikan surat tanda sudah mendaftar.

Jadi, sekarang semua terserah kepada masing-masing  diri kita. Apakah mau menjalani PTT atau tidak dengan segala konsekuensinya.

Setidaknya lagu balada dokter kontrak sepertinya layak kita persembahkan kepada dokter-dokter PTT yang sekarang sedang menjalankan tugasnya.

Dikutip dari Majalah Sinovia Edisi 24

grasping reflex. the sweetest thing..^^

niatnya mau bikin tulisan selama 2 minggu terkurung di rumah sakit.. tapi malah upload foto ini..

kuharap kau juga menyukainya.. karena ini adalah satu dari sekian hal yang masih membuatku bertahan dianak..

genggaman anak bayi..grasping reflex. the sweetest thing ^^

touch..

Keterangan foto: waktu di lagi LN koas Anak di maros. ini tanganku loh..hehehe.. anak kecilnya ngak mau melepas genggamanku.. keras banget genggamnya. pas ku lepas anaknya malah nangis… hoho..

off dulu.. mau bobo lagi ^^

besok harus bangun pagi2 lagi… 😀