[Kutipan] Kak, saya bingung mau kemana?

Oleh : dr. Joko Hendarto
Dikutip dari : http://sisilainkedokteranunhas.blogspot.com

Apa yang membuat sebagian orang merasa cemas. Membuat mereka dihantui kekhawatiran. Mungkin sebuah jawab akan muncul. Ketidakpastian. Semua bisa merasakannya. Utamanya jika yang dianggap tidak pasti itu adalah masa depan. Meskipun telah ada bekal seperti gelar akademik misalnya ditangan. Maret, Juni, September dan Desember adalah bulan-bulan kebahagiaan namun juga kecemasan. Bahagia karena pada bulan-bulan itu waktu bagi mereka yang menuntut ilmu di universitas ini akan mengalami klimaks. Mereka akan diberi gelar sarjana. Menjadi tokoh utama dalam sebuah momen yang disebut “wisuda”. Bahagia karena hari itu, hari-hari melelahkan telah berakhir. Dan yang nampak adalah wajah-wajah bahagia dengan senyum yang selalu berpendar.


Sayangnya seperti lazimnya saat bahagia, maka ia pun tidaklah berlangsung abadi. Setelah acara syukuran selesai, was-was pun datang menyergap, mereka bingung mau kemana. Para dokter pun ternyata juga mengalaminya. Ini tergambar dari pertanyaan yang kadang-kadang mereka ajukan, “ kak, ada informasi tidak tentang tempat yang membutuhkan dokter?”, atau “ apa kira-kira yang bisa saya lakukan sekarang sambil menunggu PTT?”. Dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Lalu saya ingat pesan do’I (dokter Irawan), bapak dekan kita sekarang, saat saya jadi mahasiswa. Saat itu beliau belum jadi dekan. Masih bolak-balik UNHAS-Eijkman. Masih sering nongkrong dikoridor bersama mahasiswa hingga menjelang petang. Dia bilang begini pada suatu sore “ kalian semua seharusnya sudah tahu akan berakhir dimana nantinya ketika kalian jadi dokter, jadi untuk itu harus bersiap mulai sekarang. Jangan sampai kalian sampai pada masa depan yang sama sekali tidak kalian inginkan”. Sampai di masa depan yang tidak diinginkan. Saya tidak ingin mengatakan hal itu teramat menggugah, namun yang jelas sangat mempengaruhi pikiran saya.

Hingga saat kemudian ketika banyak adik-adik yang berkata, “ saya sudah dokter kak sekarang, namun saya bingung mau kemana?”. Pesan itu pun kembali terngiang. Jangan-jangan ini dulu yang dimaksud. Agar tidak tersesat. Bahwa masa depan adalah sesuatu yang misterius dan penuh kejutan, itu tidak salah. Tapi yang namanya punya bayangan, lalu mempersiapkan diri untuk sampai disana mungkin adalah sebuah keniscayaan.

Bagi yang beruntung orang tuanya kaya dan punya uang berlebih, maka ini mungkin lebih mudah, karena pilihan sekolah lagi bisa jadi alternatif. Habis wisuda langsung mendaftar PPDS. Namun bagi yang tidak, maka hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penantian panjang menunggu saat PTT buka. Karena sekolah bagi mereka adalah sesuatu yang jauh mengingat SPP untuk sekolah spesialis di UNHAS sangat tidak terjangkau, hampir tujuh kali lebih mahal dibandingkan dengan UNAIR misalnya. Itu kata salah seorang senior yang kebetulan bersekolah disana.

Jakarta lalu menjadi satu pelarian sementara bagi lulusan kita. Mengisi klinik-klinik 24 jam yang tersebar di daerah jabodetabek. Ada yang mengatakan itu untuk sementara, namun banyak juga yang dengan setia bertahun-tahun bertahan disana. Alhamdulillah, saya pun pernah merasakan atmosfer Jakarta selama 9 bulan. Walaupun hijrah saya ke Jakarta saat itu lebih banyak terkait dengan jabatan saya sebagai pengurus bakornas LKMI. Dan harus diakui jika Jakarta memang mendatangkan daya tarik luar biasa. Bisa memperoleh uang dengan instan. Paling sedikit seratus ribu, sehari semalam. Kalau beruntung dapat klinik yang subur maka dalam 24 jam bisa dapat 300 hingga 500 ribu. Bagi dokter baru, itu adalah jumlah yang sangat besar, dan kontan saja banyak yang kecanduan dan enggan meninggalkan Jakarta.

Jakarta dan PTT adalah dua alternatif utama bagi lulusan kita untuk mengadu nasib sebelum punya pilihan definitif. Ada juga yang kemudian merantau ke Aceh, Kalimantan, Maluku hingga Papua. Namun hanya sedikit. Saya tidak tahu apakah nyali juga berperan disini. Jika iya, maka mungkin saya adalah orang bernyali kecil karena hanya merantau ke Jakarta.

Kembali ke soal kebingungan alumni-alumni kita yang baru selesai. Saya kadang-kadang iri dengan kawan-kawan dari KAGAMA-nya UGM. Mereka sangat solid membangun jaringan, hingga alumni mereka dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan dimana pun mereka berada. Bukan cuma kedokteran, namun juga pada bidang keahlian yang lain. Juga teman-teman alumni dari UNS Solo saat saya di Jakarta. Mereka sukses membangun jaringan klinik yang besar. Sebulan bisa sampai ribuan pasien. Tentu saja “salary” yang mereka dapatkan jauh lebih besar dibandingkan klinik-klinik dokter kita. Dan tidak harus 24 jam. Teman-teman Kagama atau kawan-kawan dari solo pun tetap rajin menyambangi bekas almamaternya, berbagi informasi dan trend lapangan kerja diluar sana kepada adek-adeknya.

Saya tidak tahu jawaban dari kebingungan adik-adik diatas. Bahkan saya membayangkan bahwa tak lama lagi Jakarta akan cenderung menjadi alternatif yang sulit. Diberlakukannya undang-undang praktik kedokteran akan membuat semakin tidak mudah bagi para dokter baru dengan leluasa “jaga” di klinik-klinik disana. Tidak hanya kita namun semua lulusan dokter yang baru dari setiap universitas. Alternatif yang tersisa adalah PTT. Yang kadang-kadang adalah pilihan yang diambil karena kita tak lagi punya pilihan yang lain.

Benarkah tidak lagi ada pilihan yang lain? Saya kira tidak, karena buktinya, banyak senior-senior kita yang kini jadi dokter ditempat yang berbeda. Coba saja jalan-jalan ke Kalimantan Timur atau Maluku Utara. Dokter-dokter di perusahaan, mulai dari perusahaan kayu lapis, batubara hingga eksplorasi minyak. Juga lembaga-lembaga internasional seperti WHO, Unicef, UNHCR, AMDA dan lainnya. Penyedia layanan kesehatan internasional seperti SOS. Di rumah sakit-rumah sakit swasta juga. Bagi yang masih ingin terlibat dalam proyek-proyek idealis maka wilayah timur Indonesia sesungguhnya masih kekurangan dokter. Papua, Maluku-Maluku utara, Nusatenggara, Kalimantan minus Kaltim adalah wilayah-wilayah yang masih sangat membutuhkan sentuhan tenaga dokter. Tinggal butuh keberanian daripada bingung.

Apa yang dibutuhkan oleh adik-adik kita sekarang? Saya kira yang terpenting adalah informasi. Ya, informasi tentang seperti apa sih dunia nyata di luar sana. Terutama dari kanda-kanda kita yang telah berhasil, agar mereka masih punya warisan yang berguna, minimal bagi almamaternya tercinta. Dan informasi itu tidak hanya akan berguna bagi para dokter, namun juga bagi mahasiswa yang masih aktif berkuliah. Setidaknya mulai sekarang mereka bisa menyiapkan dirinya untuk setiap mimpi yang ingin mereka raih. Sekolah tanpa bisa bekerja dengan layak nampaknya adalah sebuah kesia-sian yang sangat besar.

*kukutipkan tulisan ini untuk kakak2ku yang sebentar lagi akan mendapat gelar “dr”.
semoga bermanfaat..

25 Januari 2010
2:26 AM
bangsal atas anak RSWS
ditengah usaha menahan kantuk yang tak tertahankan..
bersyukurlah kawan, kalian yang saat ini masih bisa terlelap ^^


Iklan

26 thoughts on “[Kutipan] Kak, saya bingung mau kemana?

  1. hohoho.. mana bisa ngak ngantuk hay, dari PICU ke IRD. dari IRD ke bangsal atas. besok pagi dinas sub divisi GE. senin siang kosong sih. tapi senin malam jaga lagi…..

    huhuhuhuhuhu…….:(

    PKRMS belum selese. diskusi blum ada yg kelar. sabtu depan dah harus hijrah dari RSWS……..

    minggu 3 sepertinya akan menjadi minggu yang terberat ^^

  2. makanya sekarang onlen.. supaya nda tidur. kalo dah tidur.. nda yakin kapan bisa bangun… hahaha ^^

    kalo baca buku.. 5 menit pasti dah tidur.. ^^

    pokoknya harus bisa bertahan sampe jam 1.30.. 😀

  3. Suka kalimat terakhir yg nyinggung sekolah dan masa dpn…

    Itulah sebabnya kenapa aku lebih memilih untk tidak sekolah…

    Tidak sekolah adalah sebuah pilihan.. Bagi mrk yg tau dan mengerti kemana mereka akn menemui masa dpn-nya..

    *org geje lg komen

  4. bangeeeeeet hay.. yang capeknya pas di PICU.masi kerasa sampe sekarang…

    IRD tadi sebenarnya nyantai. pasiennya kurang.. tapi tak ada tempat buat tidur.. dan sekarang…… dapat tugas ngetik dari dokter..hufff….
    pesan moral: jangan maen2 laptop di bangsal atas.. laptop adalah benda yg paling dihunting dibangsal atas. ternyata koas Hema, tiap ada pasien baru harus mengetik statusnya.. sampe lab2nya juga di ketik T_T

  5. derasnya suatu aliran air kayaknya banyak faktornya deh….

    salah satunya bisa karena jalan yg dilalui air itu, semakin kecil pasti semakin deras..

    tergantung cara kita untuk membuatnya mengalir ^^

  6. Likes this..

    Makanya aku ngga sekolah..
    Dengan ini, minimal aku bisa sedikit terhindar dari tudingan seperti di atas..

    Kata siapa ngga sekolah itu payah..?
    Kata siapa ngga sekolah itu ngga punya harapan..?

    Hidup NGGA sekolaaaahhh…!!

    *menggila dalam kesendirian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s