Setitik Materialisme, noda pendidikan dokter spesialis

Menjadi Dokter Spesialis tentu saja merupakan jenjang pendidikan yang sangat diminati baik oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran maupun dokter-dokter umum saat ini. Bukan tanpa alasan, saat kebutuhan pelayanan kesehatan yang berkualitas menjadi tuntutan utama semua pihak. Bahwa pelayan kesehatan tak cukup hanya membawa ijazah lulusan dokter umum institut tertentu untuk dpaat survive dan diakui kemampuannya dalam menangani pasien. Masyarakat menuntut kualitas yang lebih tinggi dan terjamin. Demikian kecilnya sudut pandang yang memaksa dokter umum untuk terus maju mengikuti jenjang pendidikan lebih lanjut. Informasi mengenai sistem pendidikan dokter spesialis yang jarang tersentuh media,membuat sejumlah mahasiswa kedokteran Unhas hanya “menebak-nebak gambar” bagaimana sesungguhnya sistem pendididikan Dokter Spesialis di Fakultas Kedokteran Unhas.Di lain pihak, apa jadinya saat Pendidikan Dokter Spesialis yang notabene kelak menghasilkan “dokter ahli” berubah menjadi ajang “balik modal”? Kita tentunya merasa miris.

 

Menilik dari sejumlah isu yang merebak di kalangan civitas akademika Fakultas Kedokteran Unhas tersebut menumbuhkan rasa penasaran dari Sinovia untuk mengangkat topik Pendidikan Dokter Spesialis sebagai background utama Sinovia Edisi 34 ini. Selamat membaca!

 

setitik materialisme,

noda pendidikan dokter spesialis


        Sudah bukan rahasia lagi, rumor mengenai biaya pendidikan dokter spesialis terbilang sangat mahal. Sedangkan ditinjau dari tujuannya, yakni untuk menghasilkan dokter ahli yang berkompeten dan memiliki pengetahuan khusus dalam bidangnya, PPDS merupakan suatu program pendidikan yang sangat diminati oleh setiap dokter umum. Fenomena yang menarik, saat semakin banyak mahasiswa kedokteran bahkan dokter-dokter umum mengeluhkan biaya pendidikan dokter spesialis sangat tinggi, minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang inipun tetap semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tidak semua dokter umum memiliki kemampuan baik secara finansial maupun akademik untuk dapat melanjutkan pendidikan di program ini. Sebagian hanya mampu “gigit jari” saat kemauan untuk terus belajar terhenti karena alasan finansial tak mencukupi. “Menurut yang saya dengar, biayanya bisa berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jadi perlu modal yang sangat besar untuk bisa melanjutkan ke program pendidikan dokter spesialis”, ujar seorang mahasiswa kedokteran Unhas yang enggan disebutkan namanya. Prof. Dr. Syamsu, Sp.PD-KAI-koordinator PPDS- menampik bahwa biaya SPP yang ditetapkan tersebut adalah biaya yang diajukan dari masing-masing bagian dan telah disetujui oleh Rektor Universitas Hasanuddin”, ungkapnya.
        Prof. Dr. Husein Albar, Sp. A(K) selaku perwakilan bidang keuangan PPDS juga menegaskan “Jadi PPDS hanya mengatur proses administrasi dan pembayaran SPP untuk Program Pendidikan Dokter Spesialis bukannya menetapkan”. Beliau menambahkan bahwa mekanisme pembayaran biaya kuliah yang diatur oleh PPDS dilakukan dengan mentransfer biaya kuliah ke rekening rektor Universitas Hasanudin. Apabila sudah ada bukti pembayaran maka bukti tersebut dapat dipakai untuk mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) Pendidikan Dokter Spesialis. “Jadi sistem pembayaran PPDS tidak jauh berbeda dengan sistem pembayaran pendidikan S1, ungkap Dokter yang murah senyum ini.
Adapun rincian biaya perkuliahan di beberapa bagian favorit di PPDS yaitu:
– Ilmu bedah umum, Obsetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Mata, Ilmu Kesehatan THT, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, dan Kardiologi sebesar Rp. 10.000.000,- per semester
– Ilmu Penyakit Saraf, Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin, dan Radiologi sebesar Rp. 5.000.000,- per semester
Mengingat Biaya Pendidikan Dokter Spesialis yang terbilang mahal tersebut dan kebutuhan terhadap tenaga dokter spesialis di daerah-daerah juga cukup tinggi, maka pemerintah menyediakan program beasiswa dari Departemen Kesehatan (Depkes). Tetapi, program ini memiliki cukup banyak prasyarat dan syarat yang harus dijalani.
        Prof. Husein menjelaskan bahwa Depkes akan menyediakan biaya pendidikan dokter spesialis selama kuliah dengan syarat utama yaitu dokter lulusan tersebut harus mengabdikan diri di daerah tempatnya mendaftar selama 2 kali masa kuliah, misalnya kuliah yang dibiayai selama 5 tahun, maka dokter tersebut harus mengabdi selama 10 tahun di daerah dan rumah sakit yang ditujukan oleh departemen kesehatan.
    Dr. Syarifuddin-salah seorang residen yang memperoleh beasiswa dari Depkes- mengatakan bahwa beasiswa ini bisa diperoleh dengan mendaftar melalui Depkes daerah masing-masing. “Depkes yang akan mengurus semua administrasi sampai selesai, dan kita tinggal mengikuti tes PPDS ini”, tambahnya. Beasiswa dari Depkes ini membiayai kuliah dari awal sampai akhir masa kuliah. Dan sebagai imbalannya seorang dokter yang dibiayai itu harus mengabdi pada daerah yang ditunjuk oleh Depkes selama beberapa tahun.
        Beredarnya isu biaya pendidikan dokter spesialis yang sangat mahal diikuti oleh beberapa argumen-argumen. Salah seorang dokter umum mengatakan, “Selain biaya SPP per semester yang cukup tinggi itu ternyata ditambah dengan biaya-biaya tambahan yang harus diserahkan setiap residen kepada bagian” ungkapnya. Sejumlah Residen memilih menutup mulut ketika Tim Reporter Sinovia mengklarifikasi isu tersebut. Bungkamnya para residen jelas mengeruhkan bukti mengenai kebenaran isu tersebut. Namun Prof. Syamsu menampik dengan tegas. “Rektor sudah bilang jangan ada lagi yang bayar-bayar. Jadi tidak boleh lagi ada penaikan biaya-biaya dari yang sudah ditetapkan. Jika ada peserta PPDS yang ketahuan memberi biaya tambahan maka akan diberhentikan.” Ungkap Beliau saat ditemui di ruang kerjanya.
        Pendidikan Dokter Spesialis merupakan impian tiap dokter yang ingin secara langsung mengabdikan keterampilannya dalam bidang pelayanan kesehatan kepada masyarakat. “Namun biaya yang sangat tinggi secara tak langsung dapat menanamkan nilai-nilai materialisme dalam diri calon-calon dokter spesialis yang telah lulus kelak” ungkap salah seorang mahasiswa kedokteran yang tak ingin disebutkan namanya. Besarnya “modal pribadi” yang mesti dikeluarkan tiap residen, waktu dan tenaga yang terkuras habis untuk belajar keras selama bertahun-tahun bisa saja berimbas balik pada biaya pelayanan kesehatan untuk dokter spesialis di masa mendatang. “Bisa saja kelak, Dokter-dokter ahli yang sepatutnya mengedepankan pengabdian kepada masyarakat itu justru saling berlomba-lomba untuk mengembalikan biaya yang habis selama pendidikannya”, jelas seorang mahasiswa klinik yang ditemui di RSWS.
      Pada akhirnya kita tidak dapat menyalahkan masing-masing pihak karena biaya pendidikan dokter spesialis memang terbilang tinggi. Tak bisa dipungkiri bahwa biaya pendidikan saat ini memang sangat tinggi, sementara negara kita belum mampu sepenuhnya untuk mensubsidi biaya pendidikan dokter spesialis hingga dokter-dokter yang berkompeten namun terpaut oleh dana dapat terus melanjutkan pendidikannya. Namun, masihkah kita makfum, saat masih beredarnya segelintir kabar mengenai sumbangan-sumbangan tak resmi yang mesti turut diperhitungkan selama menempuh pendidikan tersebut dan  bagaimana nasib masyarakat kita kelak, saat imbas dari semua pusaran tak bertepi ini menghasilkan setitik materialisme dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat di masa mendatang? Bagaimana kita dapat menilainya.

——————————————————————————————
Dikutip dari Majalah Sinovia FK Unhas Edisi 34

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s