Setitik Materialisme, noda pendidikan dokter spesialis

Menjadi Dokter Spesialis tentu saja merupakan jenjang pendidikan yang sangat diminati baik oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran maupun dokter-dokter umum saat ini. Bukan tanpa alasan, saat kebutuhan pelayanan kesehatan yang berkualitas menjadi tuntutan utama semua pihak. Bahwa pelayan kesehatan tak cukup hanya membawa ijazah lulusan dokter umum institut tertentu untuk dpaat survive dan diakui kemampuannya dalam menangani pasien. Masyarakat menuntut kualitas yang lebih tinggi dan terjamin. Demikian kecilnya sudut pandang yang memaksa dokter umum untuk terus maju mengikuti jenjang pendidikan lebih lanjut. Informasi mengenai sistem pendidikan dokter spesialis yang jarang tersentuh media,membuat sejumlah mahasiswa kedokteran Unhas hanya “menebak-nebak gambar” bagaimana sesungguhnya sistem pendididikan Dokter Spesialis di Fakultas Kedokteran Unhas.Di lain pihak, apa jadinya saat Pendidikan Dokter Spesialis yang notabene kelak menghasilkan “dokter ahli” berubah menjadi ajang “balik modal”? Kita tentunya merasa miris.

 

Menilik dari sejumlah isu yang merebak di kalangan civitas akademika Fakultas Kedokteran Unhas tersebut menumbuhkan rasa penasaran dari Sinovia untuk mengangkat topik Pendidikan Dokter Spesialis sebagai background utama Sinovia Edisi 34 ini. Selamat membaca!

 

setitik materialisme,

noda pendidikan dokter spesialis


        Sudah bukan rahasia lagi, rumor mengenai biaya pendidikan dokter spesialis terbilang sangat mahal. Sedangkan ditinjau dari tujuannya, yakni untuk menghasilkan dokter ahli yang berkompeten dan memiliki pengetahuan khusus dalam bidangnya, PPDS merupakan suatu program pendidikan yang sangat diminati oleh setiap dokter umum. Fenomena yang menarik, saat semakin banyak mahasiswa kedokteran bahkan dokter-dokter umum mengeluhkan biaya pendidikan dokter spesialis sangat tinggi, minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang inipun tetap semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tidak semua dokter umum memiliki kemampuan baik secara finansial maupun akademik untuk dapat melanjutkan pendidikan di program ini. Sebagian hanya mampu “gigit jari” saat kemauan untuk terus belajar terhenti karena alasan finansial tak mencukupi. “Menurut yang saya dengar, biayanya bisa berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jadi perlu modal yang sangat besar untuk bisa melanjutkan ke program pendidikan dokter spesialis”, ujar seorang mahasiswa kedokteran Unhas yang enggan disebutkan namanya. Prof. Dr. Syamsu, Sp.PD-KAI-koordinator PPDS- menampik bahwa biaya SPP yang ditetapkan tersebut adalah biaya yang diajukan dari masing-masing bagian dan telah disetujui oleh Rektor Universitas Hasanuddin”, ungkapnya.
        Prof. Dr. Husein Albar, Sp. A(K) selaku perwakilan bidang keuangan PPDS juga menegaskan “Jadi PPDS hanya mengatur proses administrasi dan pembayaran SPP untuk Program Pendidikan Dokter Spesialis bukannya menetapkan”. Beliau menambahkan bahwa mekanisme pembayaran biaya kuliah yang diatur oleh PPDS dilakukan dengan mentransfer biaya kuliah ke rekening rektor Universitas Hasanudin. Apabila sudah ada bukti pembayaran maka bukti tersebut dapat dipakai untuk mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) Pendidikan Dokter Spesialis. “Jadi sistem pembayaran PPDS tidak jauh berbeda dengan sistem pembayaran pendidikan S1, ungkap Dokter yang murah senyum ini.
Adapun rincian biaya perkuliahan di beberapa bagian favorit di PPDS yaitu:
– Ilmu bedah umum, Obsetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Mata, Ilmu Kesehatan THT, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, dan Kardiologi sebesar Rp. 10.000.000,- per semester
– Ilmu Penyakit Saraf, Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin, dan Radiologi sebesar Rp. 5.000.000,- per semester
Mengingat Biaya Pendidikan Dokter Spesialis yang terbilang mahal tersebut dan kebutuhan terhadap tenaga dokter spesialis di daerah-daerah juga cukup tinggi, maka pemerintah menyediakan program beasiswa dari Departemen Kesehatan (Depkes). Tetapi, program ini memiliki cukup banyak prasyarat dan syarat yang harus dijalani.
        Prof. Husein menjelaskan bahwa Depkes akan menyediakan biaya pendidikan dokter spesialis selama kuliah dengan syarat utama yaitu dokter lulusan tersebut harus mengabdikan diri di daerah tempatnya mendaftar selama 2 kali masa kuliah, misalnya kuliah yang dibiayai selama 5 tahun, maka dokter tersebut harus mengabdi selama 10 tahun di daerah dan rumah sakit yang ditujukan oleh departemen kesehatan.
    Dr. Syarifuddin-salah seorang residen yang memperoleh beasiswa dari Depkes- mengatakan bahwa beasiswa ini bisa diperoleh dengan mendaftar melalui Depkes daerah masing-masing. “Depkes yang akan mengurus semua administrasi sampai selesai, dan kita tinggal mengikuti tes PPDS ini”, tambahnya. Beasiswa dari Depkes ini membiayai kuliah dari awal sampai akhir masa kuliah. Dan sebagai imbalannya seorang dokter yang dibiayai itu harus mengabdi pada daerah yang ditunjuk oleh Depkes selama beberapa tahun.
        Beredarnya isu biaya pendidikan dokter spesialis yang sangat mahal diikuti oleh beberapa argumen-argumen. Salah seorang dokter umum mengatakan, “Selain biaya SPP per semester yang cukup tinggi itu ternyata ditambah dengan biaya-biaya tambahan yang harus diserahkan setiap residen kepada bagian” ungkapnya. Sejumlah Residen memilih menutup mulut ketika Tim Reporter Sinovia mengklarifikasi isu tersebut. Bungkamnya para residen jelas mengeruhkan bukti mengenai kebenaran isu tersebut. Namun Prof. Syamsu menampik dengan tegas. “Rektor sudah bilang jangan ada lagi yang bayar-bayar. Jadi tidak boleh lagi ada penaikan biaya-biaya dari yang sudah ditetapkan. Jika ada peserta PPDS yang ketahuan memberi biaya tambahan maka akan diberhentikan.” Ungkap Beliau saat ditemui di ruang kerjanya.
        Pendidikan Dokter Spesialis merupakan impian tiap dokter yang ingin secara langsung mengabdikan keterampilannya dalam bidang pelayanan kesehatan kepada masyarakat. “Namun biaya yang sangat tinggi secara tak langsung dapat menanamkan nilai-nilai materialisme dalam diri calon-calon dokter spesialis yang telah lulus kelak” ungkap salah seorang mahasiswa kedokteran yang tak ingin disebutkan namanya. Besarnya “modal pribadi” yang mesti dikeluarkan tiap residen, waktu dan tenaga yang terkuras habis untuk belajar keras selama bertahun-tahun bisa saja berimbas balik pada biaya pelayanan kesehatan untuk dokter spesialis di masa mendatang. “Bisa saja kelak, Dokter-dokter ahli yang sepatutnya mengedepankan pengabdian kepada masyarakat itu justru saling berlomba-lomba untuk mengembalikan biaya yang habis selama pendidikannya”, jelas seorang mahasiswa klinik yang ditemui di RSWS.
      Pada akhirnya kita tidak dapat menyalahkan masing-masing pihak karena biaya pendidikan dokter spesialis memang terbilang tinggi. Tak bisa dipungkiri bahwa biaya pendidikan saat ini memang sangat tinggi, sementara negara kita belum mampu sepenuhnya untuk mensubsidi biaya pendidikan dokter spesialis hingga dokter-dokter yang berkompeten namun terpaut oleh dana dapat terus melanjutkan pendidikannya. Namun, masihkah kita makfum, saat masih beredarnya segelintir kabar mengenai sumbangan-sumbangan tak resmi yang mesti turut diperhitungkan selama menempuh pendidikan tersebut dan  bagaimana nasib masyarakat kita kelak, saat imbas dari semua pusaran tak bertepi ini menghasilkan setitik materialisme dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat di masa mendatang? Bagaimana kita dapat menilainya.

——————————————————————————————
Dikutip dari Majalah Sinovia FK Unhas Edisi 34

[Koas Radio] Hitam Putih Dunia Radiologi

HitamputiH
Bismillahirahmanirrahim..
Sudah lebih seminggu saya hidup di dunia yang kusebut sebagai “DUNIA HITAM PUTIH INI”. Baguslah saya menyebut itu. Teman-teman yang lain malah ada yang menyebutnya “DUNIA UKA-UKA”, dunia “PENAMPAKAN”, yang intinya adalah DUNIA YANG ANEH SEKALI. Walaupun harus diakui sih, saya sempat JATUH CINTA sama dunia yang aneh ini ketika di Pre Klinik. Dunia yang berbeda. benar-benar beda. mungkin karena jarang dipelajari yah, jadi terasa begitu istimewa ketika bagian radiologi masuk mengajar ke suatu sistem mata kuliah.entahlah…..

Tapi setelah seminggu hidup di dunia ini, saya mulai banyak berfikir aneh. Saya merasa dunia ini memang aneh. benar-benar seperti tak berada di duniaku sendiri.Tak heran kalo banyak orang yang menjadikan bagian ini hanya sebagai “Tempat Peristirahatan”. sebagai tempat persinggahan atau transit sebelum masuk bagian besar lagi. biasanya sih.. rata-rata koas dari interna mau ke anak, ambil radiologi atau sebaliknya. benar-benar tak adil bukan menganaktirikan bagian ini…

Dunia ini memang menyenangkan. Setidaknya untuk para koas yang mulai lelah dengan segala rutinitas yang menguras keringat. Kehidupanku kembali seperti normal dan berpola lagi. Sebelum ke kampus, masih bisa menyempatkan untuk sarapan atau kalau ngak sempat, masih bisa makan roti dikantin setelah absen pagi. Batas kedatangan yang masih bisa ditolerir itu sampai jam 8.00. benar-benar jauh berbeda dengan neuro yang hanya mentolerir sampai jam 7.00. Setelah itu, masih sempat sarapan jam 10 lagi dikantin. Setelah bimbingan atau nongkrong di ruang baca foto atau ruang pengambilan foto, pasti akan makan siang entah itu sudah masuk jam makan siang atau tidak. Seperti kembali ke kehidupan waktu Kuliah saja. benar-benar kontras kondisi ketika sebelum masuk dunia ini, ketika makan siang menjadi satu hal yang sangat istimewa. Kalau di neuro lebih sering menggunakan istilah makan sore.baik kalo makan, kalo makan siangnya dirangkap dengan makan malam atau besoknya? hehehe. setelah dinas neuro jam 16.00 baru bisa sedikit bernafas, tapi kalo sambung jaga siang……huff..tunggu semua pasien tenang dan tak ada keluhan lagi baru bisa sedikit beraktifitas normal ^^
yah, makan, shalat, tidur, belajar, online,refreshing semuanya bisa diatur ketika koas di radiologi.

Tapi saya merasakan sesuatu yang beda. Saya mulai merasa jenuh. tiap hari melihat foto hitam-putih. awalnya memang sangat mengasyikkan. seperti membaca sebuah peta harta karun saja. dan ketika mulai mendapatkan kelainan kemudian menginterpretasikannya dalam sebuah kata-kata kemudian mencari diagnosis yang mungkin dan ketika residen bilang “yah, sudah benar”. Rasanya seperti mendapat harta karun saja. tapi kalau tiap hari berhadapan dengan foto hitam putih terus, apa itu tak menjenuhkan? Saya saja yang sudah seminggu hidup didunia hitam putih ini dengan puluhan foto benar-benar jenuh apalagi residen atau konsulen yang mungkin sudah melihat ratusan bahkan ribuan foto hitam-putih dalam hidupnya. Jujur, saya tak bisa membayangkan bagaimana jika menjadi seorang dokter spesialis Radiologi. Hidup benar-benar monton. (maafkan saya!). Jika kau melihat kesibukan para residen radiologi, kau akan tersenyum keheranan. Suasana di ruang baca foto yang berukuran 6×8 meter menjadi sebuah cermin bagaimana kehidupan dokter radiologi. Diruang itu, ada belasan komputer berlayar datar berjajar dengan beberapa printer. tepat didepan komputer pasti ada 1 atau 2 light box. sebuah tempat untuk membaca foto. diruang itu juga terdapat 1 soundsystem yang akan selalu memutar lagu-lagu pop kesukaan para residen. suasanannya benar-benar seperti dikantor. maaf, saya tak sempat memotret suasana diruang itu. dan kesibukan para residen pun dimulai sejak pagi-pagi sekali. saya tak pernah tau jam berapa kehidupan diruang itu dimulai. saya pernah datang jam 7 pagi, dan suasana diruang itu sudah ramai. yah, ruangan itu boleh dibilang cukup ramai. para residen dari junior sampai senior nyaris semuanya berada ditempat itu. belum lagi para koas disampingnya berdiri, melihat cara para residen mendeskripsikan sebuah foto. Kadang juga, saya melihat ada beberapa residen yang main game, online ini itu. atau tertidur di meja kerjanya. hmm.. bisa dimaklumi.

Memang kehidupan di radiologi menyenangkan. terutama bagi maniak online. wow, komputer online didepan mata euy. tiap hari lagi! tak ada bangsal berbau tengik. ruangannya berAC, dan berMUSIK. kayak cafe bukan? tak ada keliling-keliling bangsal dan UGD yang membuat kaki pegal. Disini bisa duduk seharian dengan kursi empuk.tak ada pasien dengan penyakit-penyakit Kronik yang memungkinkan kita terpapar penyakit. NO KP. NO HIV/AIDS. NO HEPATITIS. NO penyakit infeksi lainnya pastinya.paling mugkin hanya terkena paparan radiasi. tapi kayaknya kemungkinan itu sangat kecil. yang ambil foto kan bukan dokter, tapi petugas bagian radiologi. Residen atau dokter sisa nunggu hasil saja untuk dibaca.

tapi (lagi-lagi), saya merasakan ada sesuatu yang hilang.benar-benar MISS! tak ada lagi senyum dan ucapan terima kasih dari para pasien dibangsal atau poli. Sesuatu yang amat saya rindukan. Saya benar-benar merasakan itu ketika dineuro. Bagiamana bahagianya saya dan mungkin teman-teman yang lain, ketika habis followup atau periksa pasien dan tulis obat di KIO pasien, keluarga atau pasiennya kalo lagi sadar mengucapkan “terima kasih banyak dokter”. Huff.. mendengar dipanggil dokter benar-benar mengharukan yah!.(Waktu di jiwa kemaren, memang dipanggil dokter sih, tapi kok feel nya ngak dapat yah? hahaha. mungkin karena pasiennya yang ngak bisa membedakan dokter dan dokter muda yah. bahkan perawat juga dipanggil dokter. intinya kalo pake baju putih dirumah sakit pasti dokter yah? hehe). Ditambah lagi, ketika waktu stase di Stroke center ada keluarga pasien yang memberi kami buah hasil kebunnya. huah…..terharunya. kita kira ini untuk dokter residen pas ditanya memang untuk kita koas2 ini. katanya karena kami koas2 inilah yang selalu memperhatikan semuamuanya. mulai dari infusnya yg bermasalah atau habis, obatnya yg dah habis atau tidak. ya…..begitulah. saya sangat merindukan itu semua. Saya benar-benar merasakan feel sebagai seorang dokter. dan jelas, saya tak menemukannya ketika di radiologi. Maafkan saya! bukannya saya tak suka radiologi. Anggap saja ini adalah isi pikiran saya selama dibagian itu. Mungkin saya belum dapat feelnya.mungkin di minggu 3, ketika masuk divisi RADIOTERAPI. entahlah…..

saya akan berusaha mencintai bagian ini.pasti.masih ada setengah jalan lagi untuk menghapus pemikiran-pemikiran bodohku yang sudah kutulis itu.

ditulis ditengah rasa jenuh mengerjakan referat radiologi…
when referat make me crazy!!!!!!!!!
14/12/2009

when referat make me CRAZY!

-MEDICAL LOVE-

Rating: ★★★★★
Category: Books
Genre: Other
Author: Merdyani Darkuthni

Surat Cinta Untuk Vesica

Makassar, 1 Januari 1980
Dear you…Vesica

Aku ingin menanyakan pada mu sebuah pertanyaan sederhana? Jika suatu saat ada orang yang menawarkan alveolus nya pada mu untuk memperbaiki fungsi-fungsi pertukaran udara dalam paru-paru mu, apakah kau bersedia? Atau kalau kau memang tak membutuhkan alveolus, bagaimana dengan aorta, mungkin kau butuh aorta tambahan untuk menyalurkan darah ke seluruh tubuh mu? Atau, pertanyaan ku kedengaran bodoh ya?

Baiklah, pertanyaan tak masuk akal itu aku ganti dengan, jika suatu saat jantung mu rusak dan ada yang menawarkan menjadi donor, apakah kau bersedia?? Terlalu sederhana ya? Baiklah aku perumit, bagaimana jika pendonor ini memberikannya walaupun dia tahu setelah itu dia akan kehilangan nyawanya???. Tunggu, jangan pergi dulu, ini bukan sebuah roman picisan …, tapi apa kedengaran lebay ya seperti film india jaman dulu?

Argghhh..maafkan aku yang terlalu berbelit-belit. Baiklah kukatakan, jika kau meminta alveolus atapun jantung ku, tak akan pernah kuberikan, aku tak peduli kau mati, aku hanya ingin hidup. Jangan illfill dulu, aku hanya ingin bilang bahwa aku menyayangi mu. Hupppfff…akhirnya kukatakan juga.

Untuk apa aku mati dan kau hidup, cinta ku tak sesederhana itu. Aku ingin selalu menjadi pendamping mu, kalau kau hidup, aku pun hidup, kalau kau mati, apa kau rela aku juga mati???
Baiklah, aku tak ingin membuatnya kedengaran rumit, aku hanya ingin bilang aku mencintai mu, jangan tanya kenapa aku bisa mencintai mu karena aku pun tak mengerti mengapa hanya kau yang bolak-balik dalam ingatan ku. Intinya, aku mengingin kan mu

Aku tak romantis ya? Baiklah…terserah kau saja, kau sudah berhasil membuat ku terlihat aneh…

From :

Secret Admirer, Demis

——————–
Setelah kak Ipping (FK Unhas angkt.99) berhasil meluncurkan album indienya yang bertajuk “NASIB KOAS”. kali ini Kak ani twins mengikuti jejaknya. Bukan album tapi buku Indie.Buku yang diberi judul “MEDICAL LOVE” ini merupakan buku perdananya. Isinya seputar kehidupan koas yang disajikan sangat berbeda. Kak Ani Twins adalah mahasiswa FK Unhas Angkatan 2005 yang sekarang menjabat sebagai Co-Ass tingkat 2. Mantan editor LPM Sinovia tahun 2007-2008 dan Aktif di Tim Bantuan Medis Calcaneus. Keisengan menulis kisah-kisahnya selama di menempuh masa kepaniteraan klinik akhirnya diabadikan juga dalam sebuah buku Indie.
Buku ini belum terbit secara umum sebenarnya. masih dalam proses. Sabar. Sabar 🙂
Dan “surat cinta dari Vesica” itu juga tak ada dalam buku ini. Saya asal comot aja dari note di FB nya..hehehe. terlalu banyak notenya. jadi bingung, tulisan mana yang ada di dalam buku Medical Love itu.hehehe.

Semoga Sukses Kak. dan terus berkarya!
Buat anak-anak FK Unhas yang lain (terutama diri sendiri :D)
Waktunya mengukir sejarah.. membuat sesuatu yang bisa dikenang orang. Selamat berkarya!!!!!!
——————–
oh iya, tambah referensi lagi ah. kali ini dicomot lagi dari notenya kak ani :D.

Pernah dengar “bloody love “??????
jusT reaD

Aku ingin menjadi eritrosit…
Yang dapat menggapai ventrikel kiri mu dan mengukir namaku di setiap serat miokardium
Kau tahu kenapa? Karena aku ingin jantung mu berdetak setiap kali aku memanggilmu

Biarkan aku melewati aorta dan menuju ke seluruh organ dalam tubuh mu
Biarkan para arteri yang menuntun ku untuk mengenal mu..
Akan kutanyakan pada tiap kapiler, semua hal yang kau sukai dan kau benci…
Percayalah, aku tak akan merusak sel-sel mu
Akan kuberi tiap sel mu apa pun yang aku miliki agar kau tetap bisa melihat dunia

Biarkan para vena yang membawaku kembali ke atrium kanan …
Akan ku yakinkan mereka bahwa aku telah mengenal mu…
Dan kembali ke jantung mu, tempat yang paling aman untuk ku

Kau tahu kenapa???
Karena aku ingin kau mengingat ku selama jantung mu berdetak…

*sepertinya ditulis waktu koas KARDIOLOGI di cardiac Center.. (sok tau banget diriku ^^). you know lah, dah terkenal kok, Cardiac center is the center of love..hehehe. 😀

[Koas Radio] my first day in radiology..

OK! i will start my first day in new department by saying bismillahiramanirahim“.
 beneran deh.. nih bagian yang sangat-sangat ringan. benar-benar seperti liburan.
no datang subuh-subuh!
no followup!
no jaga!
no UGD!
no konsul!
no cito konsul!
no pembacaan!
no presentasi kasus!
no pasien!
no kematian!
no pulang malam!
no visitae!
no status!
no pegal-pegal!
no tas alat!
dan yang pasti…..
no jam tangan!!!!!!  (hehehe.. akhirnya 3 minggu kedepan ini, jam tanganku akan kumuseumkan. beneran, saya benar2 tak suka pake jam tangan. tapi tak ada pilihan ketika dineuro kemaren. hahaha. jam tangan benar2 sangat membantu segala aktivitas :D)

serasa ngak koas saja. lebih tepatnya, serasa kayak kuliah. hehehe. entahlah, mungkin baru hari pertama yah. masih pengenalan dulu. tadi saja cuman ada 1 bimbingan “FOTO THORAX”. dan pembagian judul referat. dan referatku kali ini adalah “PENUMONIA ASPIRATION”.. hmm.. sepertinya bahannya tak sulit. setidaknya saya pernah dengar kan.. hahaha.. (NB: referat itu biasanya judulnya aneh-aneh.. huhu)
tadi ngapain aja yah? oia, akhirnya saya makan siang juga jam 12. hahaha. sebenarnya bukan jam 12 sih. jam 11.40, benar2 harus dicatat dalam rekor ini. semenjak saya koas, baru merasakan namanya makan siang tepat waktu.hehehe. oia, tadi pagi sempat makan juga. jam 9.00. kantin dan bagian radiologi benar-benar dekat. dari kantin saja dah bisa merasakan kalo dokter mau masuk..hehehe…… apalagi yah?? sempat ngenet juga.. merequest siklus interna setelah stase dianak. ^^
tadi sempat ngikutin residen baca foto juga. lumayan lah. saya dapat 3 foto. walau tak ada penjelasan..hehehe.. jadi dokter radiologi harus sering-sering didepan komputer yah.. hmmm.. benar-benar sibuk. seperti dikantor-kantor saja..

 3 minggu kedepan ini juga sepertinya saya dan teman-teman yang laen akan sering-sering liat poto hitam-putih.. akan sering motret-motret foto juga.. hmm.. I like it! so COOL!

2 teman minggu pertama mengundurkan diri dari radio karena masih mau ujian dibagian lagi. huff.. jadi berkurang deh yang bikin rame di radio.. huhu..teman2 yang masuk radio kebanyakan abis hijrah dari anak. makanya pembicaraan diwaktu istirahat tadi banyak bercerita tentang stase anak yang katanya sih kayak “NERAKA”..hahaha.. percaya?????? entahlah. walaupun sedikit takut juga sih..hehehe.. makanya kepikiran juga sih stase dianak setelah radio..

tadi juga habis ambil nilai di akademik. kan diradio cepat pulang.. jadinya masih dapat bagian akademik buka. en SURPRISE. I got double A. di bagian jiwa en neuro.. hehehe. sebenarnya ngak surprise sih. dah tau kok. ada teman yang liatin sebelumnya. dan sebenarnya setelah ujian sudah bisa memprediksi dapat apa. kan supervisor nya nulis nilai ujian kami dilogbook..hehehe..

semoga bisa mengulang kesuksesan yang sama diradio. 😀

SEMANGAT MAYA!
I know U can do it!