[Kutipan] Sebuah Renungan

Iseng-iseng bongkar-bongkar file sinovia. mengumpulkan semua file apa saja yang berhubungan dengan sinovia untuk di UPLOAD di  www.sinoviafkunhas.com. yup, lagi-lagi website ini saya yang harus turun tangan mengurusnya. maklumlah, tanya sana sini anggota baru ternyata banyak yang tak paham dengan website. hmm… sempat terbengkalai beberapa bulan karena saya sibuk sendiri mencari orang yang bisa mengurusnya. bodohnya diriku. kenapa bukan saya saja yang mengurusnya. akhirnya kupaksakan diriku belajar mengenai dunia perwebistean. yah… intinya belajar nge Upload aja..hehehe..

back to topic..tanpa sengaja, ada satu rubrik essai yang lumayan lama menyita perhatianku. sebuah renungan karya kak Aulia. Pimpinan Umum Sinovia 2005/2006- 2006/2007. Menjabat selama 2 tahun  sebagai leader di Sinovia. rubrik itu diterbitkan di majalah sinovia edisi 27 (juni-Juli 2007). setelah membacanya.. sepertinya saat itu kak aul lagi mencari sang pemimpin.. yang akan melanjutkan perjuangannya… hahahaha… sama seperti apa yang saya rasa saat ini.yang akhirnya tertuang di curhatan saya mencari sang pemimpi(n)

hmm… tapi ditulisannya dia lagi mencari sang prajurit. tetapi tetap dalam sebuah pencarian.  well, dimanakah sang prajurit itu????? 

SEBUAH RENUNGAN

OLEH: AULIA RAHMAN BASRI

Kala hari masih cerah, kuputuskan untuk melangkah. Selangkah demi selangkah yang kemudian menjadi beberapa langkah. Terus dan terus melangkah tanpa arah dan tujuan yang jelas. Yang ada hanyalah titik awal dan tidak tahu harus berakhir dimana.

Aku bertanya padamu tentang sebuah jalan, “Bukankah jalan itu kita yang buat,  rintisan manusia? Bukan kah bangunan kota, desa, ataupun apalah itu namanya hanyalah rekayasa manusia?” Tanyaku.

Kemudian orang-orang akan berbondong-bondong ke kota,  bahkan ada yang memutuskan meninggalkan tempat asalnya. Tentunya dengan berbagai alasan. Memperbaiki taraf hiduplah, mengejar perempuan lah, mencari lebih banyak perek lah, dan banyak lagi alasan yang lain biasa mereka digunakan sebagai sebuah pembenaran. Bukankah itu semua rekayasa? Tanyaku kembali.

Itu bukan pemberian Tuhan yang maha agung kan? bukankah budaya hedonis, pahaman matrealis, pahaman tindas menindas untuk kepentingan individu hanyalah rekayasa manusia. Bukankah begitu…!!!??? Tanyaku lagi.

 Tetapi menurut pahaman orang beragama, bukankah rencana-rencana mulai dari paling mulia sampai paling bejat sekalipun tidak akan terjadi sebelum mendapatkan restu (persetujuan ) dari Tuhan. Bukankah begitu? Tanyaku kembali bertanya.

Ataukah ini semua pembenaran atas penciptaan neraka, agar neraka ada yang mengisi. Agar Tuhan tidak disebut sebagai koruptor. Yang kerjanya hanya membuat bangunan mercusuar tetapi tidak ada manfaatnya. Hanya bertujuan mengahabiskan energi ( tenaga, materi, dan lainnya ) untuk sebuah proyek yang tidak ada gunanya. Apakah begitu?? Aku bertanya lagi.

Ataukah kita ini sudah menjadi hamba-hamba setan. Yang dibutakan dengan gemerlapnya dunia. Sesuai dengan perjanjian antara setan dengan Tuhan setelah mereka diusir dari surga karena tidak mau menyembah adam. Dan faktanya sekarang setanlah yang berjaya sehingga setan cukup berbangga karena telah cukup mampu membalas dendam kepada anak cucu adam. Jalan yang ditempuh adalah mengikutkan anak cucu adam kepada langkahnya sehingga melenceng dari langkah sang nenek moyang. Ataukah begitu?

Atau  mungkin sebenarnya ada perjanjian lebih lanjut antara setan dengan Tuhan yang tidak kita ketahui. Mungkinkah Tuhan menjanjikan kepada setan bahwa kalau dia mampu membawa sebanyak mungkin manusia ke dalam neraka hingga neraka penuh dengan manusia hingga  tidak ada tempat lagi buat setan maka setan akan di pindahkan ke surga?

 Tetapi apakah kita akan pasrah dalam kenyataan begini. Atau dengan pertanyaan yang begitu? Pasrah berarti mati. Karena kita tidak ingin melakukan apa-apa lagi. Baik itu untuk melakukan perbaikan ataukan sekedar mempertahankan ataukah lagi malah menhancurkan. Ataukah istilah berbuat meskipun hasilnya lebih jelek, akan mejadi suatu hal yang lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa alias pasrah tidak berguna lagi? Akah kah begitu? Wallahualam….

Sekelumit cerita diatas terlintas dibenakku ketika sedang menatap sebuah gedung  dalam kompleks Fakultas Kedokteran Unhas. Renungan itu tiba-tiba muncul seketika. Lebih cepat dari kedipan mata. Tetapi menetap lama bagaikan virus HIV yang menetap didalam tubuh manusia. Bahkan menjadi halusinasi auditorik yang terung berbisik ditelingaku. Dan hal yang sekelumit itu mampu membawa pikiranku jauh melayang.

Tetapi, aku melihat bangunan yang megah tetapi sunyi. Bagaikan sebuah perkampungan dimana penduduknya habis dibantai oleh tentara pemberontak. Yang kemudian memperkosa wanita serta anak perempuan  dan kemudian membunuh mereka. Sehingga setiap orang yang berniat menginjakkan kaki ke kampung yang dimaksud pasti akan mengurungkan niat mereka, meskipun sebenarnya mereka hanya ingin istirahat sejenak ataukah hanya numpang lewat. Sehingga kampung tersebut sangatlah sunyi, walaupun bangunan-bangunan rumah penduduk masuh berdiri dengan kokohnya.

Tetapi, dalam pahamku selama ini di dalam banguanan yang megah dikompleks Fakultas kedokteran tinggalah prajurit-prajurit kebenaran yang menitik beratkan cita-citanya hanya kepada perbaikan masyarakat tanpa tendensi-tendensi tertentu. Sebuah makhluk yang dibekali kecerdasan intelektual luar biasa. Yang dengan tangannya mereka mampu merubah keadaan disekitarnya bahkan terbukti para pendahulu mereka telah mampu merubah kondisi bangsa. Seorang penguasa yang telah lebih kurang 35 tahun berkuasa mampu mereka tumbangkan. Penguasa yang mana menurut pahaman sebagian orang hanya mampu tergantikan ketika nyawanya hilang. kekuasaan yang menurut sebagaian orang absolut sifatnya Tetapi pada faktanya mampu mereka ganti.

Tapi ironis rasanya, 10 menit aku berfantasi sambil sekali kali mengisap rokokku, tidak satupun sosok prajurit yang tampil sebagai sosok pahlawan muncul. Apakah mereka sekarang sedang tidur lelap kerena lelah? Tanyaku kemudian. Atau sengaja ditidurkan? Tanyaku kembali. Sehingga kemapuan dan kekuatan  mereka untuk merubah sesuatu tidak lagi ada. Ataukah mereka sekarang sudah terbuai dengan kenikmatan yang diberikan oleh penguasa baru sehingga melupakan amanah yang diberikan oleh mayoritas orang kepada mereka. Apakah begitu adanya? Ah aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya mampu bertanya.

Suatu saat aku mencoba mengintip kedalam bangunan megah, aku melihat beberapa rungan yang memiliki fasilitas yang lengkap. Aku berfikir ruang kepala desa di desaku saja kalah bersaingan dengan ruangan-ruang yang ada. Disana ada AC, komputer, televisi, dispenser, kulkas…yang hampir menghiasi disetiap rungan. Layaknya kantor-kantor pejabat pemerintahan. Apakah itu yang membuat mereka terlelap? 

Aku kembali merenung, apakah situasi seperti diatas menjadi kenikmatan yang patut disyukuri ataukah bahkan menjadi beban yang patut disingkirkan? Beban dalam hal ini membatasi arah pergerakan seorang prajurit. Batasan dalam arti semuanya bukanlah sesuatu yang diberikan secara gratis, melainkan sesutu yang harus dibayar mahal bagi seorang pejuang.  Mereka diminta  tidak perlu lagi memperjuangkan apa yang menjadi hak mereka ataukah lagi memperjuangkan hak kaum mayoritas.Begitukah adanya?

Yah, paling banter yang mampu kulakukan hanya menggerutu didalam batinku. Mengeluh kepada diri sendiri. Dan tidak mampu berbuat apa-apa. Aku berfikir, seandainya aku bisa menjadi prajurit yang selama ini orang menyebut mereka sebagai mahasiswa kedokteran, tentulah aku sangatlah bangga dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadaku. Tetapi sayang orang tuaku tidak punya cukup uang untuk memenuhi impianku.

“Anu… sini ko… lantai depan kantin belum ko bersihkan…!!!”

Suara itu membuyarkan semua lamunanku dan menyadarkan aku untuk kembali bekerja.

Langkah dan melangkah. Setidaknya aku berharap langkahku sudah kulangkahkan. Setidaknya ada niatku untuk melangkah. Untuk sang prajurit  hanya satu pesanku, segeralah melangkah karena dunia diluar mengharapkan kalian untuk segera berlari.

dikutip dari majalah sinovia FK Unhas edisi 27 (Juni-Juli 2007)
Iklan

4 thoughts on “[Kutipan] Sebuah Renungan

  1. tahukah engkau…

    aku pernah berpikir sebaliknya…

    mengenai pertanyaan, “kenapa dokter banyak yang money oriented?”

    tu kalo mau dijawab sebenere…

    KARENA…KESALAHAN MASYARAKAT KITA SENDIRI!!!

    Coba liat, kapankah menurut masyarakat sekitar, seorang dokter dikatakan sukses?!?

    YUP!!!Bener banget!!! Saat dokter tersebut terlihat mentereng dengan harta melimpah!!!

    Maka jangan salahkan kita jika kemudian menjadi seorang dokter yang money oriented!!!

  2. sama kayak pemimpin dan masyarakat…

    mungkin kita sering mendengar istilah “pemimpin busuk”

    tapi, pernahkah engkau berpikir sebaliknya?!?

    pemimpin busuk itu sampai bisa jadi pemimpin karena siapa?!?

    yuppp…bener banget…

    mereka terpilih jadi pemimpin ya karena ada yang namanya “rakyat busuk”

    dan banyak banget “rakyat busuk” di Indonesia ini^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s