[curhat] Mencari SANG PEMIMPI(N)

Seperti roda yang berputar.. seperti itulah hidup. Kadang saya berfikir, kenapa roda itu tak berhenti saja. Apakah ia tak lelah berputar? Saya saja terkadang capek melihat roda yang terus berputar, seolah-olah enggan tuk berhenti.

Saya menghela nafas panjang…. roda yang berputar memang harus terus berjalan. Tak terkecuali dalam sebuah organisasi atau lembaga. Huft..l agi-lagi saya menghela nafas panjang. Seolah ribuan ton dipundak saya masih setia membenani tubuh mungil ini. Apa lagi kalau bukan belum menemukan sesosok pengganti saya untuk bisa meneruskan roda pemerintahan di organisasi/lembaga yang saat ini saya pegang. Saya tak mungkin terus menjalankan roda itu. Harus ada regenerasi! Tapi, apa jadinya jika tak ada yang mau mengembankan tanggungjawab untuk menjalankan roda itu? Haruskah ia berhenti? Dan dilupakan? Entahlah…

Saya bingung. Kenapa begitu sulit mencari sang pemimpin di lembaga khususnya fakultas Kedokteran. Saya berfikir… dipolitik, dipemilu, diperusahaan, dipemerintahan  orang berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi setinggi mungkin. Kalau bisa jadi No.1 Siapa yang tak mau? Popularitas, Fasilitas, Kenyamanan, Koneksi dimana-mana. Hampir semua orang selalu ingin jadi yang superior. Itu kodrat manusia secara alamiah. Tak ada yang bisa mengubahnya…  Yang saya heran mengapa begitu sulit mencari orang seperti itu di lembaga FK Unhas.. yang sangat terobsesi untuk bisa jadi pemimpin.. bukan karena gelar, popularitas, fasilitas atau nama besar yang akan disandang… lebih dari itu.. bukankah kesempatan itu sangat langka. Huft… saya menghela nafas lagi… Saya merupakan salah satu pemimpin di lembaga Internal FK Unhas yang sedang mencari sesosok Pemimpin yang kelak mau meneruskan roda kelembagaan yang sedang saya emban. Saya tak bisa lepas.. sebelum mendapat sang pengganti saya. Hmm… menjadi pemimpin di lembaga jelas bukanlah cita-cita saya. Saya memutuskan menjadi sang Pemimpin itu karena rasa “kasihan” di dalam diri saya melihat lembaga saat ini. KRISIS KADER. Dan hal yang paling sulit dari seorang pemimpin adalah melepas tongkat estafet ke orang yang “tepat”. Sangat sulit. Terlebih jika tak ada yang bersedia. Apa  saya harus memimpinnya lagi selama 2 periode? Atau saya memutuskan lembaga yang saya besarkan ini mati saja. Dalam artian vakum. Dan itu artinya usaha saya selama 1 periode ini di kali nol. Entahlah?

Mungkin saya kembali membahas kenapa begitu sulit mencari SANG PEMIMPIN di Lembaga FK Unhas. mungkin ini hanya analisis saya selama 2 tahun ini terjun bebas di lembaga..

Pertama, mungkin yang paling mencolok karena KERINGAT KAMI TAK DIBAYAR. Ini jelas. Beda dengan orang-orang diluar sana yang berlomba-lomba ingin jadi ketua parpol, pimpinan Perusahaan atau bahkan PRESIDEN sekalipun. Menjadi yang paling superior jelas gaji mereka akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan para bawahannya. Bahkan mendapat fasilitas seperti mobil dinas, rumah dinas yang lebih “wah”. Tak heran lah jika mereka berebutan posisi strategis. Beda dengan lembaga. Yang paling capek jelas lah Pemimpinnya. Tapi keringat kami tak pernah dibayar. Bahkan tak dihargai! Kami yang jadi pemimpin melakukannya dengan penuh keikhlasan. Walaupun rasa iri ke teman-teman lain kadang ada. Yang kami tahu, kami hanya diberi tanggungjawab. Pilihan kami adalah menerimanya. Dan tanggung jawab kami adalah menjalankannya. Saya ingat beberapa tahun yang lalu. Dulu, para presidium di lembaga masih mendapat “beasiswa” khusus para pimimpin lembaga. Lepas dari beasiswa berprestasi ataupun kurang mampu. Bahkan saya pernah mendengar beasiswa untuk KETUA BEM bisa mencapai 3 juta pertahun. Tapi, jelas bukan karena beasiswa itu yang mendorong para penggerak perubahan untuk mau jadi pemimpin. Minimal uang tersebut bisa menututpi pengeluaran sang pemimpin untuk transportasi datang rapat. Bayangkan saja kalau setiap hari harus mengadakan rapat.. atau menutupi pulsa yang dipakai. Entah untuk berdiskusi dengan senior-seniornya terdahulu atau hanya sekedar SMS anggotanya buat datang rapat.. ya.. walaupun hal tersebut bisa memakai uang organisasi dengan menyetor nota pulsa ke bendahara.. namun, ada beberapa hal yang memang kita sebagai pemimpin harus mengeluarkan uang pribadi untuk organsiasi. Yang pasti tak mungkinlah memakai uang organisasi untuk pribadi.. Tapi saya juga bingung, kenapa tahun ini beasiswa itu sudah dihentikan. Entahlah……

Kedua, Tekanan dari segala penjuru.. ya… menjadi seorang pemimpin harus siap mental. Itu pasti. Siap dikritik. Siap dimarah-marahi. Siap djauhi. Siap dimusuhi. Siap capek. Siap mengorbankan hal-hal pribadi.. ya… harus siap semuanya. Jadi pemimpin jelas bukanlah ajang coba-coba. Bukan untuk mencari popularitas atau apapun itu. Karena tanggungjawab itu sangat besar. Dan hanya ada 2 hal yang mungkin terjadi.. di PUJA atau di CACI..

Ketiga..Kesibukan akademik yang telah memaksa kita menjadi mesin yang tak pernah peduli dengan nasib sekeliling kita. Mungkin ini hal yang sangat klasik. Tapi itulah yang terjadi. Sistem yang berjalan sekarang menuntun kita untuk terus belajar. Walaupun saya berfikir, bukankah di lembaga kita juga bisa belajar? Huft.. apa jadinya jika semua orang terbuai dengan kesibukan akademik? Saya tak bisa memikirkannya. Terlalu berat. Saya ingat dengan kata-kata dibuku Patch Adams yang mengatakan “Aku datang ke fakultas kedokteran dengan dua kaki, tapi ketika lulus kakiku jadi empat, semuanya terbungkus perban. Universitas lebih mementingkan bagaimana kita menilai sesuatu, bukan bagaimana kita bertindak! Mereka memberi kita citra. Kita menyegelnya, lekat-lekat. Kita membawanya kemana-mana untuk membuat teman-teman kita, terlebih lagi pasien kita, terkesan. Pasien, pasien, ya Tuhan., kita telah lupa pada mereka” semoga bisa jadi perenungan bagi kita…

Keempat.. organisasi/ lembaga yang saya pimpin merupakan badan khusus (BK) yang bergerak di bidang jurnalistik. Ada 3 BK di FK Unhas.Sinovia (bidang jurnalistik), TBM (bidang Medis dan kegawatdaruratan) dan MYRC (bidang penelitian). Jurnalistik.. ketika masih Maba saya berfikir, kok ada sih organisasi jurnalistik di FK Unhas? Tidak salah? Bukannya itu kerjaannya anak bahasa atau komunikasi? Bahkan bisa menjadi Badan Khusus. Sebuah Lembaga yang bisa dibilang setara dengan BEM. Bahkan poin kemahasiswaan jika masuk jadi anggota bisa mencapai 1300 perperiode. Waktu itu saya berfikir.. pasti seru di TBM atau MYRC, lihat saja.. di TBM kita diajar sirkum, diajar menolong orang.. melakukan tindak-tindak Emergency. Siapa sih yang tak bangga jika disodorkan pisau untuk melakukan tindak pertolongan. MYRC.. hmm.. siapa yang tak bangga jika hasil tulisan kita dipatenkan. Melakukan penelitian. Siapa yang tak bangga sebagai calon dokter. Berdiskusi dengan dokter-dokter tentang penelitian yang kita  rencanakan. Merealisasikan. Bahkan tak jarang kita dipanggil dokter untuk bantu-bantu dalam mengerjakan penelitian yang ia buat. Sangat mengagumkan. Tapi disinovia.. sinovia itu apa? Kita malah diajar buat cerpen, buat puisi, buat essay.. hahaha.. saya tertawa lagi. Wajar saja banyak yang enggan memikirkan lembaga ini. Tak heran waktu angkatan saya MABA sinovialah yang paling sepi pendaftarnya. Saya ingat ditahun pertama hanya ada 3 pendaftar dari angkatan 2006. Tapi setelah jadi anggota beberapa bulan akhirnya 2 orang dari 3 orang itu memutuskan berhenti. Dan 1 orang itu sempat menjadi sekertaris Umum namun harus berhenti karena pindah di STAN Jakarta. Tahun kedua.. akhirnya saya memutuskan untuk bergabung. Terlepas dari mimpi-mimpi saya ingin jadi anak TBM atau MYRC. Ketika itu hanya ada 8 orang angkatan 2006 yang mendaftar dan mengikuti jenjang pengkaderannya. Setelah jadi anggota.. justru saya merasa tidak salah  pilih. Sinovia membuat saya begitu berbeda. Di SINOVIA, justru karakter sesungguh saya mulai terbentuk.. mungkin di postingan lain saya menceritakan awal-awal itu..kali ini saya akan kembali bertanya, masih adakah anak kedokteran angkatan dibawah saya (2007) yang siap memegang Sinovia selama satu kepengurusan? Lembaga yang bergerak dibidang jurnalistik itu? Yang sangat sedikit peminatnya? Yang sebenarnya banyak.. tapi mereka masuk hanya mengejar poin kemahasiswaan. Bahkan saya sudah tak bisa membedakan lagi yang mana masuk karena benar-benar hobi menulis, tertarik dibidang jurnalistik..yang punya komitmen dengan orang yang masuk hanya karena ingin memenuhi poin kemahasiswaan yang bernilai 1 SKS itu.  Huft.. kali ini saya benar-benar menghela nafas panjang sekali. Entah apa yang harus saya lakukan agar lembaga ini bisa bertahan. Tidak tidur lagi.. karena kalau ia tidur.. sangat sulit untuk bangun. Ya… lembaga ini sudah beberapa kali vakum, apa lagi kalau bukan karena tak ada SANG PEMIMPIN itu. Apakah saya akan mengulangnya lagi.. membuatnya tidur ditangan saya??

 Pernah terpikir tidak lembaga yang kita pegang itu hancur ditangan kita.???

Sebuah keberhasilan jika kita bisa mempertahankan organisasi atau lembaga yang kita pimpin agar tetap eksis. Tidak vakum.. dan yang pasti mendapat sang PEMIMPI yang mau melanjutkan mimpi-mimpi lembaga itu..

Akankah saya berhasil menemukannya????



2 Mei 2009

[karena sang pemimpi itu belum bangun dari mimpi panjangnya. Belum siap menampakkan drinya.. apakah ia pengecut? Atau tak mau menghadapi dunia nyata karena terlalu terbuai dengan mimpi-mimpi indahnya? Atau ia tak ubahnya dengan mesin yang tak mau peduli sekitarnya.. hanya peduli dengan kepentingan dirinya sendiri? Entahlah (lagi-lagi saya berkata itu).. tapi saya percaya suatu saat sang pemimpi itu akan berubah jadi sang pemimpin..]

Iklan

4 thoughts on “[curhat] Mencari SANG PEMIMPI(N)

  1. Ternyata ga hanya di FK Unud aja ya may?!

    Di FKUH juga to….

    Pertama kali dalam sejarah, tahun lalu bursa pemilihan ketua BEM FK Unud diisi oleh calon tunggal….

    Sepertinya, dengan perubahan kurikulum ini, banyak yang harus dikorbankan….

    Moga bursa tahun ini tak diisi calon tunggal lagi…

    Amiiinnnn^^

    Oh ya, semangat maya,..dengan mengemban amanah itu, engkau telah selangkah lebih bertanggung jawab dibanding teman-temanmu!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s