[Kutipan] …taman baca sinovia, sebuah oase…

dikutip dari tulisan dokter aktivis sekaligus dosen di FK Unhas

http://sisilainkedokteranunhas.blogspot.com/


…taman baca sinovia, sebuah oase…

Pada sebuah pagi, beberapa mahasiswa datang menata buku. Disebuah taman, pada bangku marmer berwarna coklat muda dibawah rindang pakis dan hijau bunga-bunga disekitarnya. Hawa tanah masih basah oleh gerimis, yang turun malam sebelumnya. Perlahan mereka mengeluarkan buku dari kardus, menjejerkannya.

Pagi itu, sabtu di samping Lt. 5, di sebuah taman. Aku langsung terbayang dengan athena beberapa abad lampau. Saat itu seorang bijak, socrates, mengajarkan kearifan kepada orang-orang muda di sebuah taman, taman akademos. Ia mengajarkan pengetahuan tentang hal yang sangat muskyl yakni “kebenaran”. Ia mempertanyakan kebenaran. Ia mempertanyakan mungkinkah manusia bisa mengerti kebenaran, ataukah cuma para dewa di olympus sana yang mengerti. Ia mengajar mereka memakai nalar untuk mengerti alam semesta. Akhirnya sang bijak pun seperti tutur sejarah harus mati demi kebenaran yang dipahami oleh orang banyak. Ia kalah. Ia dipaksa minum racun karena dianggap mencemarkan kejernihan berpikir kaum muda. Meracuni mereka dengan sesuatu yang sangat berbahaya. Mempertanyakan kebenaran. Dan orang paling bijak dimuka bumi menurut ramalan Orakel di delphi pun gugur.

Socrates, mengajarkan kearifan di sebuah taman. Sama juga dengan Kristus yang memberikan kotbah kepada para muridnya dari atas bukit. Mereka mengajarkan kebenaran pada sebuah tempat yang lapang. Tempat dimana hanya satu ukuran kebenaran, kebenaran itu sendiri. Mengajarkan kebenaran ditempat orang bisa datang dan pergi sesuka hati mereka. Karena sebuah taman, adalah negeri bebas. Negeri dimana tiap-tiap orang tidak perlu takut. Disana tidak ada penguasa.

Dan pagi itu aku melihat, akademos, hadir difakultas ini. Tak ada orang bijak disana yang hadir mengajarkan kearifan. Kearifan pun hadir dengan sendirinya, menjelma lewat untaian kata dan kalimat dari lembar-lembar kertas. Mata-mata itu menari, menyeruput hikmah, menjelajahi pengetahuan yang mungkin tersembunyi disetiap halaman. Lihatlah mereka menjelajah, menembus batas langit, larut dalam bacaan. Seperti meditasi.

Apa yang paling menakutkan dari kepandiran? Utamanya jika kepandiran itu menyatu dengan kesombongan karena merasa diri paling mengerti kebenaran. Paling tahu segala hal. Mungkin kita harus belajar dari kejatuhan iblis. Sebelum Adam diciptakan, iblis adalah makhluk mulia setingkat malaikat. Ia terjerembab karena kesombongannya utntuk tidak mau bersujud dihadapan manusia yang diciptakan hanya dari tanah. Ia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api. Ia tidak tahu bahwa makhluk itu lebih mulia dari apa pun karena Tuhan sendiri telah mengajarnya dengan ilmu. Tuhan mengajarkan manusia pengetahuan yang yang tidak diajarkan pada malaikat. Iblis pun berubah menjadi pandir, tidak tahu, namun teramat sombong, lalu jatuh dari firdaus.

Dan sebuah taman baca adalah obat kepandiran. Juga sebuah oase. Sebuah tempat yang netral. Siapa saja bisa singgah. Sebuah taman baca adalah penyambung lidah peradaban. Melalui buku ia menjaga semesta dengan rantai pengetahuan yang mungkin pernah dipahami manusia. Dan seorang pembaca adalah manusia yang merdeka. Merdeka atas dirinya sendiri. Merdeka untuk menjelajahi tempat-tempat yang mungkin tabu. Merdeka mengunyah ide-ide yang mungkin oleh para ustadz, pendeta atau alim adalah sesuatu yang terlarang. Karena jika seseorang tidak berani menyeberangi tapal, maka boleh jadi ia akan terjebak dalam kepandirannya sampai berkarat-karat.

Pada akhirnya , harapan. Berharap agar kecambah penguatan peradaban ini tetap tumbuh. Menghadirkan kearifan untuk lebih utuh melihat dunia. Dunia yang tidak hanya berwarna hitam atau putih. Namun disana ada bianglala. Dan biarlah taman baca ini tetap menghadirkan bianglala ditengah bekunya tembok-tembok beton Fakultas Kedokteran.

“Maya, i really proud of u. Bgi sya taman bca ini sangat penting untk membngun kesdran literasi dikalngan mhsiswa FK. Supaya horizon kta smkn diperluas. Ya, kalau ilmu2 kdktran kurang bsa lgi memanusiakan kta mungkn kta bsa mnta bntuan sastra dan seni untk itu. Seperti pda koleksi bku kalian. Oke semangat ya. Untk kak sudi’ trma ksh bnyk atas dknganx.”

 

 

———————————————————

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s