[Sinovia] Kisah seorang dokter pemerhati terumbu karang

kisah seorang dokter pemerhati terumbu karang

Lokasi : Pantai Selayar
fotografer : Benedicta Wayan Suryani Wulandari, dr, SpM
Layout : maya
Penulis/Editor : Asriani

Keterangan :
Menjadi seorang dokter mungkin memiliki nilai kebanggaan tersendiri. Nama besar seorang dokter menjadi sesuatu yang begitu diharomati di lingkungan masyarakat. Hingga menjadi dokter besar dan ternama merupakan impian banyak dokter saat ini. Namun, bagaimana dengan nasib dokter yang mengabdikan dirinya di daerah terpencil? Mungkin tak dapat meraih nama besar layaknya dokter-dokter di kota besar, namun jika kita memandang di sudut yang berbeda, ternyata banyak nilai plus yang dapat kita pelajari di daerah tersebut. Hal inilah yang coba untuk ditunjukkan oleh Dokter Benedicta Wayan Suryani Wulandari, Sp.M seorang dokter yang telah sekitar 3 tahun mengabdikan dirinya di RSUD Selayar.

Beberapa waktu lalu dengan prakarsa Dokter Joko Hendarto, salah seorang dosen Falkultas Kedokteran Unhas, digelar talkshow seputar sisi lain seorang dokter. Talkshow yang mengangkat tema “Sisi Lain Seorang Dokter Terumbu Karang” berawal dari kunjungan dokter Joko ke Selayar yang merupakan tempat dr. Benedicta mengabdikan diri kepada masyarakat. Beliau kemudian tertarik dan mencoba membuka wawasan terhadap real life for being doktor sehingga digelarlah talkshow tersebut di FK Unhas. “Saya senang bisa sedikit membagi pengalaman saya selama bertugas di Kabupaten yang 95% wilayahnya adalah lautan, dengan 123 pulau yang tersebar mulai dari perairan Bira hingga Flores”, ungkap Dr. Benedicta dalam sebuah wawancara tertulis dengan tim reporter Sinovia. Saat ditanya mengapa mengambil tema seputar Terumbu Karang, dokter yang ramah dan murah senyum ini santai menjelaskan karena memang terumbu karang yang ia jumpai, alami, pelajari dan cintai di tempat ia bertugas.
Menurut Dokter yang menyelesaikan pendidikan spesialisnya di FK Unhas ini bahwa menjadi dokter bukan berarti kita menutup mata terhadap hal-hal menarik di luar sana.” being a doctor doesn’t mean we close our eyes for something else”, ujarnya. Penerapan long life learning bukan hanya untuk pendidikan kedokteran kita saja namun semua hal dan nilai-nilai lainnya yag dapat kita pelajari di dunia ini. Tak terkecuali bila jalan hidup membawa kita ke dunia terpencil, mengabdi pada kemanusiaan dengan sarana seadanya, kita masih dapat mempelajari banyak hal yang berbeda. “Kalau di kabupaten kepulauan selayar, belajar konservasi penyu, scuba diving, management resort, desain T-shirt & souvenir lain, dll”.

Saat ditanya harapan Beliau seputar talkshow-nya, Ibu dari tiga anak ini berharap baik mahasiswa kedokteran maupun dokter-dokter bisa memandang masa depan dengan lebih yakin, lebih punya rasa ingin tahu, dan seimbang antara skill sebagai dokter (sharp diagnostic & good treatment) dengan skill kemasyarakatan. Kedua, seimbang antara pekerjaan dan hobi karena ibaratnya, hobi bisa me-recharge energi kita dalam bekerja, supaya bisa selalu full service dan masyarakat bisa menilai baik hasil kerja kita. Dan yang ketiga, supaya teman-teman tidak takut bekerja di daerah terpencil sebab banyak hal baru yang bisa ditemui dan dipelajari. “As long as we had the attitude. No problem at all”, ungkapnya mengakhiri wawancara.
(dikutip dari majalah Sinovia edisi 35)
http://www.flickr.com/photos/aya06fkuh/4195030104/sizes/o/

Iklan

7 thoughts on “[Sinovia] Kisah seorang dokter pemerhati terumbu karang

  1. blm bs ngasi rekomendasi.hehe.blm byk tmpat yg kukunjungi.kykx bnyakan dibali deh.. btw,tau ngak,dr.benedicta ini tokoh yg insipiring aku bgt.makax mati2an pengen dia yg jd tokoh inspirasi dimajalah sinovia kami.wlwpun ade junior yg kukasih tanggungjwb bwt wawancara sering pesimis.hehe.wwncara trtulis loh.cman kirim2 surat (internet disana g ada).pdhl udh deadline dan nyiapin plan b dgn tokoh lain.hehe. tp akhirx jd juga..hiks wlwpun hrs trpending 1.5 bulan.oh ya..sy yg layout loh khusus halaman ini.ntar dicari y di lpm atw bemx.ad kukirim 2 biji.hehe.
    smoga dgn kisah dr benedicta,kt tak kan pernah takut bwt mgabdi di kota trpencil
    nb: selayar adlh pulau kecil dibwh pulau sulawesi.dr makasar 6 jam smpe dipelabuhan feri.naik feri 2 jam bwt sampe dipulau itu.ferinya cuman sekali seminggu nyebrang.air bersih dipulau it lumayan sulit…

  2. hmmm….

    niat banget wawancara dokter benedicta-nya…

    ntar deh may, kalo aku udah jadi spesialis, pangen banget travelling…

    wait 4 me yaaa…

    btw, maya suka travelling gak?!?

  3. SUKA BUANGET!!!! hakhak…mulai mendata kota-kota yang pernah kukunjungi deh…
    1. MALANG (kelas 4 SD)
    2. SURABAYA ( satu paket dengan ke malang…waktu itu jalan2 ke gunung bromo juga…wuih… pertama kalinya naek kuda..hakhakhak….)
    3. Jakarta 1 (SMP kelas 1, temani papa di acaranya IKABI)
    4. BALI ( pertemuan PERDOSSI nya mama, SMA kelas 2)
    5. Arab Saudi (Madinah, mekkah, Jeddah [umrah 2006]…..unforgetable moment banget..)
    6.Palu, Sulawesi tengah (Januari 2008)
    7. Bandung (Februari 2008)
    8. Lombok (Juli 2008)
    9. Jakarta 2 ( Agustus 2008)
    10. Kalimantan Selatan (Januari 2009)

    ———

    NEXT TARGET :
    – salah satu kota di sumatera (huah…apa aja deh..yang penting nginjakkin kaki di sumatera..hehehe…padang OK. medan kayaknya seru. Palembang keren..hehehe)
    – Yogyakarta (mau..mau….mau… dulu gagal pergi waktu SMA karena ada ulang harian..padahal ulangannya ngak jadi..hiks..hiks.. nyesal mode ON!)
    – ROMA!!!!!!! ITALY!!!!! wuih…ini yang bikin aku paling mupeng…hehehe… hmm… harus bisa pergi dengan biaya sendiri….hehehe.. *buka tabungan : wuih..kayaknya baru cukup tiket jakarta pualng pergi aja..hakhakhak…
    – BATAM (katanya abrang-barang elektronik disana murah-murah…hahaha.. mau beli harddisk murah meriah…, laptop baru…hehehe)

    hehehe… kalo kak nens… mau kemana aja???

  4. iya… saya yang paling ngotot, nih dokter harus dikenal sosoknya!!!!!

    sedikit miris dengan paradigma ynag terbangun diteman-teman saya…semenjak PTT ngak diwajibkan lagi… banyak dokter umum yang langsung memilih sekolah lagi.. entah diluar negeri atau di kota yang lebih besar. dan setelah itu??? jarang ada yang memilih untuk balik ke negaranya atau daerahnya. dan yang memilih PTT adalah orang2 yang mau ngumpulin biaya buat sekolah PPDS lagi….. dokter membludak… tapi indonesia tak sehat-sehat juga.. apa yang salah???

    yah… itu salah satunya karena kurangnya dokter yang mau mengabdikan dirinya di tempat terpencil…..

    mm…ngak bisa berkomentar banyak..dah mau pulang nih…hehehe… lengkapnya bisa baca disini aja yah…
    http://majalahsinovia.multiply.com/journal/item/35

    semoga bisa jadi perenungan bagi kita semua….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s